Sabtu, 12 Maret 2011

tips shoting live

Tip Shooting langsung atau Live


                   TIPS SHOOTING DAN DUNIA VIDEO SHOOTING

 Saat ini saya sedang mendalami bisnis Dunia Video Shooting dan sudah berjalan, namun masih ada yang kurang dalam peralatan video shooting, peralatan untuk Studio saya saat ini adalah Kamera Panasonic MD9000 ada dua, PC Komputer P4 2.8c Ghz,mem 1 Gb, Hdd 120 Gb,Card Capture. tapi saya masih merasa kurang dalam hal jika ada pengambilan Shooting Perkawinan di barengi dengan Hiburan dengan menggunakan 2 kamera. 
pertanyaannya :
1. Apakah ada peralatan tambahan untuk Shooting seperti itu selain kamera dan komputer?
2. Teknik Shooting supaya suara hiburan tidak terputus saat pindah adegan gambar pada saat shooting atau tekhnik Shootingnya supaya kalau pindah adegan tidak terputus, contohnya seperti hiburan music dangdut atau music pop di atas panggung dalam siaran Televisi(kadang ambil gambar penyanyinya terus pindah ke penontong tapi suara sound dan penyanyinya tidak terputus)? dan hasilnya nanti di gabungkan di Adobe Premier.
Trim’s
Jawab:
• suara atau Audio
untuk teknik pengambilan suara panggung menurut saya paling baik bila anda mengambilnya terpisah dari dunia video, bila anda mempunyai budget lebih mungkin bisa menggunakan notebook, dan mengambil suara dari audio mixer secara digital.
• lighting
usahakan menggunakan light yang sesuai kebutuhan (hindari backlight), lebih baik lagi jika di lampu anda menggunakan kipas agar lebih awet

• Shooting Hiburan dengan lebih dari 1 camera
Anda sudah bagus peralatannya, untuk membuat effect suara hiburan supaya tidak terputus dengan menggunakan 2 camera, hal yang anda lakukan adalah:
1. Camera ke-1 buatlah hidup (On) terus sampai lagu/music selesai.
2. Camera ke-2 buatlah berpindah-pindah, misalnya shoot penonton, pemain musicnya, penyanyinya dari beberapa sudut, usahakanmembuat sudut lebih dari 45 derajat. Hasil dari camera-2 ini nantinya suara dibuang. dan suara yang dipakai adalah
suara dari camera-1.
3. Anda tinggal mencocokkan potongan2 camera-2 dengan track lagu dari camera-1. Memang memerlukan waktu, tapi kalau sudah biasa tidak akan menyulitkan.
4. Kalau belum biasa, camera-2 ambil penonton atau penabuh music saja, permasalahannya kalau anda mengambil penyanyi anda akan sedikit kesulitan mencocokan ucapan (maaf) mulut penyanyi dengan hasil suara camera-1.
1. Pake Taping ( Multicamera)
Betul kalo mo lebih dari 1 camera,(Multicam) enaknya pake Video Switcher/Visio Mixer, trus Record di 1 VTR/VCR ato kalo gak ada VTR bisa direcord ke handycam via S-video ato Y/C(Composite). Audionya ambil dari mixer soundsystem/FOH trus diconnect ke input audionya VTR.
Kalo mo pake 2 camera pake mixer video CMX-07, kalo 4 kamera bisa pake Videonics ato Edirol V4, banyak ko yg nyewain(250rb-an). kelengkapan lain kamu hrs punya kabel video yg panjang buat dari kamera ke Mixer, bisa pake RG58 ato RG59. Trus untuk audio pake kabel stereo yg agak panjang buat nyambung dari mixer audio ke VTR. Kalo pake sistem ini kamu bisa langsung tayangin pengambilan gambarmu pake LCD projecor ke Screen ato ke TV. kelengkapan laennya sebenarnya masih banyak untuk bisnisDunia Video. Namun dengan alat yang anda punya maksimalkanlah kelebihan dari alat-alat tersebut.

canera video editing

Tentang kamera Video


KAMERA VIDEO




Camera Video Editing
     
Media elektronik yang kaitannya dengan video adalah salah satu bentuk terbaik dalam proses penyampai informasi ke khalayak dari kehidupan masyarakat kepada pihak luas secara efisien dan efektif. Dewasa ini Ledakan media elektronik ternyata tak diikuti oleh tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki integritas di bidang yang mereka geluti. Ada banyak lembaga dan media yang mencetak manusia dengan pengetahuan teori yang cukup di bidang teori jurnalistik elektronik, namun lebih sering hal ini tak diimbangi dengan kemampuan di bidang keahlian dan terutama kewirausahaan di sektor tersebut. Menyadari pertumbuhan komunikasi visual bergerak telah menjadi kebutuhan dan pola kebiasaan di masyarakat, ditinjau dari murah dan mudahnya mendapatkan sebuah handycam dimiliki oleh masyarakat yang meliput segala peristiwa,  tradisi, budaya manusia yang beragam ditambah dengan panorama alam, hal ini menjadikan peluang keterampilan Video Shooting untuk berkembang menjadi professional.
Maraknya TV Lokal yang ada, swasta/Pemda, bisnis untuk peliputan Pribadi, Sekolah dan Perguruan Tinggi, Keterampilan Videoshooting layak untuk diterapkan di kehidupan bisnis masyarakat.
Usaha video shooting memang tidak akan pernah mati namun harus terus digali. Mencermati bidang ICT/ TIK Kamera Video Editing, bahwa masih sedikit dijalankan oleh masyarakat terutama pribumi adalah sebuah kebutuhan dari suatu kegiatan di lingkungan sekitar kita dimana sering berlangsung berbagai acara seremonial pernikahan, sunatan, pengajian, kelulusan, dan lainnya. Dan adalah kenangan yang bisa dijadikan media, sebagai pengingat momen-momen tersebut seperti cinderamata, foto, dan film dokumenter/ video. Sehingga saat ini peluang untuk menggali potensi berbisnis video shooting makin terbuka lebar. Tidak hanya itu, Keterampilan tersebut bisa dibarengi dengan bisnis runtunannya  seperti edit video, transfer video ke VCD atau DVD, dan lainnya.
Seperti halnya foto digital, videografi atau video shooting bidang bagian TIK ini juga membutuhkan keterampilan agar menghasilkan kualitas video gambar yang baik. Untuk menghasilkan video yang baik dibutuhkan teknik dan trik, persiapan yang matang berupa konsep suatu moment ataupun tema kegiatan Shooting agar hasil yang didapatkan juga maksimal. Begitu juga dengan penguasaan dengan perangkat praktek berupa komputer kerja yang support lengkap dengan fasilitas video editing/ transfer, camcorder untuk shooting, camera digital ataupun analog dan peralatan pendukungnya.
Pelatihan tidak saja menonjolkan pengetahuan teknis namun beracuan dari pembentukan mental, Teknis tips trick hingga pengetahuan pengadaan sarana untuk memulai usaha bisnis Kamera video editing. Secara umum pelatihan ini mencapai target mencetak praktisi media Video Editing baik maupun Kamera, dalam kurun Singkat, padat, aktip namun atraktif dan aplikatif. Mereka akan lulus sebagai praktisi handal untuk bidang kamera Video Editing.
METODE
Mengenalkan dunia multimedia kamera & komputer
Melatih menyusun story board rinci
Menyiapkan materi & data pendukung
Ketrampilan instal program video editing
Intensif latihan teknik shooting camera
Peralatan Standard camera MD 10000
Terjun langsung di ruang terbuka, studio, dengan single/ multi camera
Paham dan terampil menyunting gambar secara benar, teknik mengedit video & mengandakan
Tools profesional standard industri, software: Adobe Premier Pro.
Mengetahui kalkulasi jasa shooting & editing, pemasaran, pelayanan untuk perorangan, instansi, perusahaan dll.
Wawasan wirausaha tangguh, berilmu, beriman dan bertakwa Modul mudah, praktis & singkat, edutaiment 85% langsung praktek, sampai bisa & bebas konsultasi bagi alumni.

 

MATERI PELATIHAN
A. Shooting Camera:
Praktek Camera equipment, safety, preparation & maintenance.
Pengoperasian focus, zoom
Komposisi gambar (framing, sequence theory, camera angle, type of shot size).
Camera handling/ camera movement
Imaginary Line + Depth of Field
Three Point Lighting
Capturing Audio, recorder
Teknik pengambilan gambar, Outdoor/ Indoor Set up (Using audio + lighting theory)
B. Video Editing:
Praktek intensif capturing footage
Pengertian dan fungsi editing, style dalam editing, editing essentials, digital video editing
Operasi dasar editing project /Non-linear editing process: capturing, rough cut, final cut trim, split, rolling, riple, export, transisi
Audio dan sinkronisasi
linking & unlinking, effect, keyframe, superimpose, blue screen, transparency, split screen, matte, animated still
Mastering
C. Manajemen Teknik Usaha
Entrepreneur/ Kewirausahaan buka usaha jasa Kamera & Video editing
Administrasi keuangan, Pemasaran, Pelayanan & Penjualan.
Budaya Jernih Quality (ESQ & life skill)

Videografi dan Fotografi


1) Film Dokumenter, Eagle Award
Kompetisi pembuatan film dokumenter Eagle Award telah berhasil dilaksanakan secara konsisten dari tahun ke tahun dan makin mendapat perhatian dari masyarakat. Memang apa sih film dokumenter itu? Dan bagaimana pula ia berpotensi memberikan kontribusi bagi pembangunan di Indonesia? Apakah ada “Eagle Award-Eagle Award” yang lain?
2) Menampilkan Kreasi Video di TV Nasional 
Dimana sajakah ada kesempatan bagi seorang kreator video amatir untuk menampilkan karyanya di tv nasional? Narsis TV, Eye Witness, kontributor saksi mata peristiwa (biasanya peristiwa musibah)?,, dan bagaimana spesifikasi kreasi yang dibutuhkan untuk mengisi kesempatan-kesempatan itu? Saya akan meneliti sejumlah program acara di teve-teve nasional dan akan menuliskan laporannya di sini.
3) Video Youtube sebagai Wahana Kreasi
Video Youtube ialah wahana kreasi yang amat global : lintas negara, budaya, disiplin ilmu, kepentingan,, Tulisan ini akan mengulas beberapa aspek tentang Youtube terutama aspek manfaat, beberapa aspek teknis dan prosedural untuk bisa bergabung ke dalam wahana paling kreatif sedunia ini sebagai kreator video.
4) Workshop Produksi Film Pendek Anak-anak
Di salahsatu quotes harian Koran Sindo pernah saya baca kira-kira, “Salah satu bentuk kepemimpinan ialah memberikan kesempatan kepada orang biasa untuk melakukan hal-hal yang biasa dilakukan orang hebat.” Maka pada suatu hari libur saya mengumpulkan keponakan saya dalam acara workshop pembuatan film pendek, mulai dari menyusun ide cerita, merumuskan sinopsis dan skenario, merancang adegan, pengambilan gambar dan editing. Alangkah senangnya mereka mengikuti kegiatan itu! Tulisan ini akan mengevaluasi jalannya kegiatan tersebut, yang dalam satu hari telah menyelesaikan syuting 2 film pendek : Suster Mengaku Hantu &Ponari Mengaku Rasul.
5) Video Ulangtahun 
Video ulangtahun mungkin merupakan video yang paling manis di dunia, terutama video ulang tahun kanak-kanak. Ketika di Barat banyak peristiwa perayaan ulang tahun yang sudah dianggap berlebihan bahkan gila, salahsatu fungsi mendasar peringatan ulang tahun yaitu ajang evaluasi perkembangan, dapat dibantu oleh dokumentasi video. Lantas apa saja yang bisa disiapkan untuk ini, bagaimana membuat skenario sederhana video ulang tahun?
6) Video Pernikahan
Video pernikahan merupakan salahsatu produk video yang amat unik dari banyak aspeknya. Ia bisa saja dibuat oleh tim dokumentasi panitia dengan seadanya, namun banyak pula mempelai yang menginginkan hasil yang lebih baik sehingga menyewa tim video syuting yang profesional. Apa saja perbedaan tim amatir dan tim profesional dalam memproduksi video pernikahan? Momen-momen apa saja yang harus ditangkap dalam acara ini, dan bagaimana sudut-sudut pengambilan gambar yang menarik? Bagaimana pula merancang konsep produk video pernikahan sehingga bisa menghasilkan produk video yang sungguh berbeda jika dibandingkan dengan video pernikahan “standar”?
7) Video Liputan Acara
Acara-acara yang melibatkan banyak orang di lingkungan rumah maupun di tempat kerja, seperti turnamen olahraga, seminar, tabligh akbar, pameran, festival; biasanya diselenggaran dengan pembentukan panita sebelumnya, dimana tim dokumentasi bertanggungjawab pada produk foto dan/atau video. Tulisan ini kelak akan berisi tips-tips untuk membuat suatu reportase visual yang baik yang bisa disebarkan ke khalayak yang lebih luas serta dapat menjadi laporan pandangan mata sekaligus bahan evaluasi demi lebih baiknya penyelenggaraan acara-acara serupa di masa yang akan datang.
 Video Biografi 
Jika buku biografi maupun autobiografi sudah merupakan hal yang cukup lazim, maka video biografi belum banyak dibuat, padahal seperti yang dapat kita saksikan di program MetroTV, tayangan biografi tokoh-tokoh dapat dibuat sedemikian menarik dengan penyusunan cerita yang baik, meski banyak gambarnya yang hanya berupa foto. Tulisan ini akan berisi saran pembuatan video biografi yang baik serta manfaat yang bisa diperoleh dari produk tersebut.
9) Video Lucu Keluarga
America Most Funniest Home Video merupakan acara legendaris seiring dengan boom home video di Amerika Serikat pada tahun 80-an. Anak-anak, dengan segala kepolosannya, merupakan “obyek tak bersalah” yang sering “dieksploitasi” untuk mendapatkan kelucuan, karena memang demikian luarbiasanya daya tarik human interest yang terpancar dari wajah dan tingkah laku kanak-kanak. Obyek apalagi selain kanak-kanak dan binatang yang mudah digunakan? Bagaimana kondisi yang memerlukan canded camera dan yang tidak, dan pada kondisi bagaimana rekayasa adegan dapat dilakukan secara wajar sehingga tetap bisa menghadirkan kelucuan?
10) Video Sulap
Dulu kita sering mendapati pada tayangan sulap di televisi ada tulisan “bukan trik kamera”, belakangan sih jarang ada lagi dengan adanya gaya baru live show-nya Master Deddy Corbuzier. Memangnya kamera video bisa berperan seperti pesulap? Ya, tapi harus melalui prose editing video terhadap pengambilan-pengambilan gambar yang telah direncanakan dengan matang sebelumnya. Bahkan jika Anda seorang yang benar-benar pemula (dalam bidang video, editing, dan sulap), Anda masih layak berharap bisa membuat video yang akan membuat anak-anak terheran-heran! Mau coba mempraktekkan? Ikuti beberapa contoh yang akan dijelaskan di dalam tulisan ini kelak.
11) Video Rekonstruksi 
Video merupakan media yang amat potensial untuk alat pembelajaran bersama. Misalnya, pada suatu lingkungan kerja atau perumahan kadang terjadi musibah (kebakaran, pencurian, kecelakaan lalulintas, kecelakaan kerja, dst). Idealnya bisa dibuat video rekonstruksi yang bisa menjadi alat evaluasi bersama agar peristiwa serupa tak akan terjadi lagi di masa yang akan datang. Jika kita saksikan di tv-tv nasional, adegan rekonstruksi sudah menjadi bagian yang umum dan menarik untuk disaksikan pemirsa, padahal sekumpulan orang (di rumah atau di kantor) dapat pula membuatnya secara swakarsa di lingkungan masing-masing. Di tulisan ini saya akan mengajukan saran-saran dan tips-nya.
12) Video Training
Terutama di kantor-kantor perusahaan besar, seringkali terdapat prosedur standar bagi pengerjaan tugas tertentu yang dituangkan dalam suatu Standard Operation Procedure. Kebanyakan dokumen demikian yang saya lihat hanya berupa tulisan, padahal sebuah gambar ilustrasi (cartoon style pun) akan amat membantu pembaca dalam memahami situasinya. Lebih idealnya lagi, rekaman video dapat dibuat untuk keperluan ini yang akan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang suatu aktivitas yang harus dilakukan. Dengan demikian, seorang manajer tak perlu capek berbicara ketika memberikan arahan kepada staf yang sedang di-training, padahal pula sering kesulitan dalam menjelaskan situasinya dengan kata-kata. Cukup stel video, biarkan video yang “berbicara” ribuan kali hingga head player-nya aus, sementara sang manajer duduk manis dengan segelas minuman ringan, tinggal menunggu saat tiba sesi tanya-jawab.
13) Video Undangan
Apakah Anda masih ragu dengan prediksi akan booming-nya koneksi internet dalam beberapa tahun mendatang di Indonesia sehingga akan menjadi standar komunikasi baru di rumah-rumah? Pada saat demikian, video undangan acara pun diperkirakan akan lazim, misalnya ketika sepasang calon mempelai merekam pesan yang mereka sampaikan sebagai undangan untuk menghadiri resepsi pernikahan yang akan diselenggarakan. Bagaimana kira-kira teknisnya lebih lanjut, akan saya tulis disini.
14) Video Layanan Masyarakat
Video layanan masyarakat, seperti juga iklan layanan masyarakat yang sering kita saksikan di televisi, bertujuan memberikan sudut pandang tertentu kepada audiens terhadap suatu isu yang berkaitan dengan kepentingan publik. Misalnya, iklan ajakan untuk berpartisipasi dalam pemilu, ajakan untuk meningkatkan kewaspadaan lingkungan, ajakan untuk meningkatkan kepedulian sosial, dsb. Sehubungan dengan makin maraknya stasiun teve lokal daerah dan bahkan teve kabel yang mencakup komunitas yang lebih sempit lagi, sementara itu banyak isu-isu sosial yang memiliki konteks khas lokal masing-masing, video layanan masyarakat merupakan produk yang potensial untuk dibuat di lingkungan rumah.
15) Dari Kamera Video menjadi Uang
Di sini akan dijelaskan sejumlah ide sederhana yang bisa dilakukan agar peralatan kamera dan komputer editing yang ada bisa menjadi uang yang lumayan, baik secara langsung maupun tidak langsung (yaitu sebagai penunjang produk atau layanan jasa lain yang diberikan kepada pelanggan).
16) Iklan Komersial dari Rumah 
Ada sejumlah barang/produk yang biasa diperjualbelikan dalam kondisi baru maupun bekas, yang kelancaran proses penawarannya sedikit banyak ditentukan oleh “citra visual” yang berpengaruh terhadap pembentukan intuisi/feeling maupun kalkulasi obyektif dari calon pembeli, misalnya properti, rumah, kendaraan, binatang peliharaan. Video juga menyimpan informasi audio selain visual, maka misalnya, video tentang penawaran penjualan mobil yang berisi rekaman mobil dalam keadaan mesin hidup (dimana suara mesin mobil terdengar yang bagi sejumlah ahli montir dapat menjadi indikasi tentang kondisi mesin) dapat menjadi alat promosi yang efektif yang kemudian dapat disebarkan di internet untuk menjangkau pasar yang tak terbatas.
17) Kiat-kiat Pra Produksi 
Proses pembuatan produk video idealnya melalui tahap awal perencanaan yang sering disebut dengan istilah Pra Produksi. Disini tujuan pembuatan video dirumuskan, demikian pula dengan desain dan konsep produk, pembentukan kru, bujeting dan skeduling. Apakah kegiatan ini tetap penting untuk produksi sederhana? Di sini saya akan menulis pentingnya perencanaan yang paling sederhana pun, untuk produk yang paling sederhana pun, dan pentingnya perencanaan yang lebih matang untuk rencana produksi video yang lebih penting.
18) Kiat-kiat Syuting
Salahsatu kesalahan yang paling umum dilakukan oleh kameramen amatir ialah gerakan kamera yang terlalu liar bagaikan “video tsunami” yang sebenarnya disebabkan oleh ketidaktahuannya tentang pesan apa yang hendak disampaikan oleh gambar yang di-syut-nya. Tulisan ini akan berisi tips-tips seputar cara pengambilan gambar yang baik dan bagaimana cara belajar paling mudah (dan gratis) yang dapat dilakukan, yang kelak akan menghasilkan perbedaan besar dibandingkan dengan para kameramen amatir yang tidak memiliki pengetahuan dasar ini.
19) Pencahayaan Saat Syuting
Pada suatu produk dokumentasi yang sudah dihasilkan, entah itu video pernikahan, ulang tahun, panggung hiburan, sering muncul keluhan dari pemirsa, “kok buram ya”, “gambarnya gak tajam ya”. Ujar yang mengeluh, mereka itu tak mengharapkan hasil gambar yang “neko-neko”, tapi hanya ingin gambarnya jelas saja. Padahal, itu justru tantangan terberat, bahwa aspek pencahayaan memang bukan perkara sederhana apalagi dalam lingkungan syuting yang sulit dikendalikan, sehingga menjadi aspek penting yang harus menjadi perhatian kameramen. Lalu bagaimana menyiasati kondisi lingkungan syuting, keterbatasan peralatan, termasuk kualitas kamera yang memang bukan kamera film atau kamera video kelas broadcasting, agar dapat dihasilkan gambar yang lebih kecil kemungkinannya di-komplain?
20) Tips Memilih Camcorder 
Jika Anda sudah memiliki camcorder, abaikan tulisan ini dan segeralah mulai berkreasi video dan jangan terpengaruh oleh adanya camcorder yang lebih canggih yang dimiliki oleh tetangga terdekat Anda. Jika Anda belum memilikinya, coba saja usahakan dulu pinjaman dari kawan/saudara, lalu gunakan untuk praktek produksi video. Hanya jika Anda memang belum punya camcorder, berniat memilikinya, punya bujet sehingga tak harus berutang, maka berikut ini sejumlah tips untuk memilih camcorder untuk Anda beli. Tips ini kelak tidak akan menyebut produk tertentu bagus atau produk yang lain buruk, namun lebih kepada penyesuaian produk sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daya beli Anda.
21) Tentang HAKI 
Beberapa waktu lalu sebuah pemenang festival film diprotes karena dianggap memasukkan unsur audio karya orang lain sehingga melanggar hak cipta atas kekayaan intelektual. Tulisan ini akan meninjau hal tersebut dalam konteks produksi video keluarga. Misalnya, apakah melanggar hukum jika kita memproduksi video klip karaoke untuk sekedar fun di keluarga, dimana kita melakukan lip-synch terhadap lagu komersial karya orang lain? Lalu free-royalty sources manakah yang dapat kita gunakan untuk menunjang produksi video kita?
22) Bagusnya Dasar Ilmu Fotografi 
Seorang kameramen dan fotografer memiliki tugas yang mirip : menangkap gambar yang mampu menyajikan banyak cerita. Dalam satu hal tugas fotografer lebih berat, yaitu bahwa ia harus mampu menyajikan cerita itu dalam 1 gambar, sedangkan video dapat menyajikan cerita itu dalam rangkaian gambar. Karena itu disini akan dijelaskan bagaimana bagusnya seorang kameramen memiliki dasar ilmu fotografi agar ia bisa paham tentang take syuting yang perlu diambilnya.
23) Video Demo Masakan
Setiap dapur pasti memiliki resep dan menu andalan tersendiri yang dapat saling dipertukarkan antar keluarga, tetangga, dan bahkan dapat menjangkau publik dunia jika disimpan di Youtube video, sehingga bisa lebih populer daripada acara-acara wisata kuliner yang ditayangkan di tv-tv nasional. Tulisan ini akan menyingkap potensi booming “video demo masakan” berhubung kekayaan ragam budaya, etnis, agama dan keyakinan di persada nusantara ini.
24) Video Tips-tips Rumahtangga
Di majalah-majalah untuk konsumsi rumah tangga biasanya terdapat rubrik tips praktis keperluan rumah tangga, dari urusan mencuci, listrik, air, kebersihan, keamanan, dsb. Alangkah asiknya jika tips ini bisa di-sharing melalui video sehingga maksudnya bisa dipahami dengan jelas dan dapat dipraktekkan dengan benar. Beberapa saran dan contoh potensial akan dijelaskan dalam tulisan ini.
25) Kontributor Berita
Bagaimana jika pesawat TNI AU lagi-lagi jatuh, dan kali ini tepat di pekarangan rumah kita? Maka jika kita siap dengan camcorder, kejadian itu dapat kita rekam dengan peralatan, lalu bisa menjadi video eksklusif untuk ditayangkan di teve nasional, bukan untuk mengeksploitasi penderitaan, tapi kelak akan berguna sebagai bahan evaluasi safety. Lalu bagaimana menjadi kontributor video yang baik (janganlah video eksklusif itu melulu bergaya “video gempa”). Maka bersiaplah sejak sekarang, jangan lepaskan camcorder dari tangan Anda! (ini sih mirip iklan Metro TV).
26) Editing Video Sederhana
Melihat banyaknya efek visual dan animasi di layar kaca, mungkin banyak orang awam menilai begitu canggihnya dunia editing video sehingga amat sulit untuk dijangkau. Padahal antara editing, visual efek dan animasi, merupakan tugas-tugas yang berbeda meski sama-sama termasuk dalam tahap akhir pengerjaan yaitu Paska Produksi. Disini akan ditulis bahwa dasar editing itu sebenarnya amat sederhana, yaitu hanya memotong dan merangkai ulang gambar. Dengan job editing sesederhana itu kita sudah bisa membuat suatu film ceritaasalkan kita punya rangkaian stok gambar yang memang punya makna yang saling terkait.
27) Slideshow Album Foto Keluarga
Setiap rumah pasti punya album keluarga yang berisi foto-foto jadul hingga yang masih anyar. Abadikan saja gambar-gambar tersebut menjadi video (biasa disebut sebagai “slideshow”) dan simpan di Youtube sehingga dapat dinikmati keluarga besar kita di tempatnya masing-masing! Disini akan dijelaskan aspek teknis pengerjaan produksi tersebut, hingga software yang dapat digunakan untuk keperluan itu.
28) Perlengkapan Minimalis
Kadang saya suka kesel sendiri jika ada orang yang membangga-banggakan fasilitas perangkat video/komputer padahal justru menjadi ironis sehubungan dengan fakta minimnya kualitas dan kuantitas kreasi yang telah dibuatnya. Maka saya pun mengusung “mahzab minimalis”, dimana akan saya jelaskan perangkat-perangkat yang paling sederhana yang dapat digunakan untuk keperluan produksi video. Karena kan, seperti pesan yang disampaikan oleh film-film Rambo, yang lebih penting itu ialah “the man behind the gun”.
29) Beberapa Teknik Sederhana
Di tulisan ini akan diungkap beberapa teknik visual efek sederhana dalam editing video yang bisa dilakukan di rumah, juga dengan peralatan yang serba sederhana, antara lain yang disebut dengan image matte, blue/green screen, dan difference matte.
30) Latihan Komunikasi Visual 
Komunikasi visual yang baik mestinya dapat menjadikan gambar “berbicara dengan bahasanya sendiri”. Dari teori ini maka tahulah kita bagaimana kualitas aspek skenario dan penyutradaraan pada sebagian besar sinetron kita, dimana amat sering tampil “suara dari batin” yang membantu menjelaskan kepada pemirsa tentang kejadian yang berlangsung. Di tulisan ini akan dijelaskan bagaimana melatih kepekaan komunikasi visual melalui kegiatan syuting sederhana di lingkungan rumah/kantor, yang akan melibatkan beberapa orang keluarga atau rekan kerja sebagai pemirsa.
nda tidak mungkin untuk mendapatkan semua keseluruhan gambar dari setiap pesta pernikahan, tapi jika anda mendapatkan moment –moment yang baik, maka anda siap untuk mengedit pesta pernikahan / resepsi pernikahan penuh kenangan tersebut.

Sebelum pesta dimulai :

Ruang rias Pengantin saat anda ditempat, anda dapat mengikuti langkah berikut:
Shot buket bunga dan dekorasi utama kamar tersebut. Saya suka melakukan shot perlahan, camera bergerak pelan dengan rangkaian bunga sebagai focus. Dan saya juga suka melakukan slow zoom out, atau shot yang menggambarkan suasana ruang.

Persiapan pengantin pria, anda bisa mengambil beberapa moment yang unik seperti, saat pendamping pengantin pria mengecek jamnya, atau saat sedang menyiapkan pakaian pengantin dan accessoriesnya. Atau beberapa moment pernikahan lain yang unik dan tidak terduga.

Detail shots (kadang bahkan harus diambil secara macro). (contohnya: saat akad nikah, pada meja terdapat buku nikah, kotak cincin, dan mas kawin. Anda mungkin bisa mengambil gambar benda-benda tersebut dengan cara camera moving secara pelan dan mengambil beberapa gambar close up pada setiap bendanya. Jika mungkin anda dapat menatanya di meja kemudian anda ambil dari berbagai angle dengan cara zoom in dan zoom out pada alur yang lambat.

Ide tambahan untuk detail shot : selop pengantin, baju pengantin yang tergantung, perhiasan dan accessories pengantin, tempat cincin, pengiring pengantin dan penerima tamu.

Exterior Mesjid atau Gereja: Yang menarik adalah memulai pengambilan video (video shooting) dari bagian atas Masjid atau Gereja, kemudian keseluruhan tampak bangunan, coba untuk menangkap seni arsitektur bangunan tersebut dari berbagai angle, jangan berdiri mematung dan mengambil satu dinding saja.

Saat di Pesta ;

Pengambilan gambar secara kontinyu, mulai dari saat pengantin perempuan berjalan masuk hingga kemudian berdampingan dengan pengantin pria. Idealnya, gunakan 2 camera.

Tempatkan salah satu di posisi menghadap ke arah pengantin. Untuk camera lainnya langsung anda pegang sendiri, posisikan diri anda di sebelah depan pengantin perempuan, saat proses shot dimulai, biarkan pengantin berjalan melewati anda.

Kemudian setelah pengantin perempuan sampai di tempat acara, pindahkan tripod hingga berada dalam angle yang baik untuk mengambil gambar saat pengantin mengucapkan janji. Perpindahan posisi camera ini sebaiknya dikoordinasikan dengan panitia lainnya, kalau perlu dapat dilakukan latihan terlebih dahulu agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Tip lain dari ahli: Jangan membuat pan shot, atau paling tidak bukan full pan. Anda tidak perlu men-shot punggung orang saat berjalan melewati anda. Pan saja sedikit saat mereka berjalan masuk agar bisa tertangkap dalam frame disaat mereka memunggungi anda.


Sentuhan istimewa di dalam ceremony, seperti penyanyi solo, orang yang mengaji solo, rangkaian bunga, dekorasi ruang, lighting dll.

Reaction shots dari keluarga besar pengantin, khususnya saat pengantin mengucapkan janji.

Coba depth of field shot – Contohnya, memfocus soloist dengan pengantin sebagai background out of focus-nya, kemudian secara perlahan berganti mengubah focus ke arah pengantin.

cobalah berlatih, khususnya untuk tampilan dengan servo-focus lens, fungsi tersebut biasa anda dapatkan pada camcorder seperti Sony VX-2000 dan Canon XL1s. yang lebih mudah digunakan untuk mem-focus ring yang terhubung dengan lens, pada camera seperti JVC DV-500 atau Sony DSR-300.

Jika mungkin, lakukan lagi shot saat memasang cincin. Dapatkan angle close up yang baik saat cincin dimasukkan ke jari, sama baiknya saat men-shot ekspresi wajah pengantin pria melihat mata pengantin perempuan. (untuk melakukan hal tersebut, biasanya saya men-shoot malalui kerudung pengantin perempuan, melewati pundaknya kemudian perlahan ke arah kanan, sehingga mengahasilkan sebuah shoot yang menyentuh, tentunya tergantung jenis kerudung yang di pakai pengantin perempuan,.)

Anda bisa mengambil moment tersebut dalam beberapa angle dan bila mungkin memakai beberapa camera.
Ambil video saat photographer sedang melakukan kegiatan foto. ( beberapa photographer tidak menyukainya, sebaiknya bicarakan dulu).

Senin, 07 Maret 2011

pendidikan dasar produksi siaran tv

Diklat Produksi Program Pendidikan Siaran Televisi
Senin, 10 Mei 2010 10:38 Admin
E-mailCetakPDF
Perkembangan teknologi multimedia khususnya yang berkaitan dengan audio dan video sangat pesat, untuk itu selama empat belas hari, sejak tanggal 07 s.d. 20 Februari 2010 diselenggarakan Diklat Produksi Program Pendidikan Siaran Televisi. Program ini dilaksanakan berkat kerja sama Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama dengan Sekolah Tinggi Multi Media MMTC Yogyakarta. Kegiatan yang berlangsung di kampus milik Kementerian Kominfo  diikuti 40 peserta yang terdiri dari para widyaiswara, penulis modul dan para ahli di lingkungan Pusdiklat, Balai Diklat Keagamaan, UIN Bandung dan STAIN Salatiga.
Diklat yang dibuka secara resmi oleh Kepala Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan, Ibu Hj.  Siti Maryam, S.Ag.,M.Pd bertujuan; Pertama, membekali Widyaiswara di lingkungan Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Kementerian  Agama agar mampu menyiapkan media ajar/materi diklat untuk siaran televisi. Kedua, menyiapkan tenaga pengajar/widyaiswara yang mampu menjadi narasumber/pemateri dalam acara siaran televisi. Ketiga, menyiapkan sumber daya manuasia yang mampu mengembangkan metode pembelajaran melalui siaran televisi. Lebil lanjut Ibu Kapus memberikan motivasi agar semua peserta memiliki A3 yaitu : Aku Bisa, Aku Krasan, Aku Tuman sebagai jawaban ungkapan yang disampaikan oleh bapak Drs. M. Suparwoto yang memberikan sambutan mewakili Pimpinan MMTC Bapak Dr. Ir. Sasongko Pramono Hadi, DEA. Dalam sambutannya beliau menyampaikan, peserta diklat jangan menjadi A3, yaitu: Aku Bisa, Aku Pernah Bisa, Aku Lupa. Selanjutnya beliau menyampaikan bahwa Diklat ini selain mempererat hubungan kerjasama antar Lembaga, juga akan menjadi ajang pertukaran informasi karena peserta Diklatnya adalah para intelektual dan profesional “Widyaiswara”.
Adapun materi yang disampaikan meliputi:
Strategi menjadi Narasumber Talk Show, Monolog untuk pembelajaran, mengelola audience, mempersiapkan materi termasuk GBIM
Teknik menulis Naskah, naskah narasumber, naskah feature dan monolog
Teknik Penyutradaraan (pengarah acara)
Teknik Pengambilan Gambar
Teknik Produksi Program siaran TV dan terahir praktik.
Selama pelatihan, peserta dengan antusias menerima materi-materi yang merupakan hal baru bagi widyaiswara. Seperti materi Strategi Menjadi Narasumber Program Pendidikan Siaran Televisi, di akhir sesi ini para peserta dituntut berakting secara monolog di depan kamera layaknya presenter sebuah televisi. Lebih istimewa lagi dan yang membuat “grogi” peserta, justru karena disaksikan langsung oleh bapak Sekretaris Badan Litbang dan Diklat, Drs. H. Asmuي, SH, M. Hum.
Hari ketiga materi Teknik Penyutradaraan (pengarah acara), sutradara adalah sebutan bagi seorang yang mempunyai profesi menyutradarai Program Acara Televisi, baik itu program acara drama maupun nondrama, baik itu produksi dengan single kamera maupun multi kamera. Pada intinya hasil akhir dari sebuah program acara televise melalui proses yaitu, proses produksi yang terdiri dari pra produksi, produksi, dan paska produksi yang ketiganya menyatu, tidak boleh terlewatkan. Apabila salah satu tingkat pengerjaan produksi itu hilang atau belum selasai, maka tugas sang sutradara masih belum tuntas. Dalam kesempatan lain peserta juga diajak masuk ke ruang Studio siaran televisi. Di lokasi Studio siaran, meskipun tidak sempat mengoperasikan berbagai macam alat rekaman yang sangat canggih, mereka cukup puas dengan memegang-megang peralatan yang harganya milyaran rupiah itu, bahkan tidak sedikit ber-pose, mengabadikan moment penting tersebut dengan kamera masing-masing.
Materi yang tidak kalah menarik adalah Teknik Pengambilan Gambar. Pada materi ini peserta tidak hanya dituntut menjadi kameramen, tapi juga harus menjadi obyek pengambilan gambar sehingga ketika ditampilkan hasilnya terjadi “ger-geran” karena muncul adegan-adegan lucu, seperti rebutan mike antara bu Umi dan pak Sholeh. Maklum, semua pemain dan kameramennya masih amatiran.
Pada hari ke-tujuh, peserta mendapat support dari Sekretaris Badan Litbang Dan Diklat Bapak Drs. H. Asmu'i, SH., M.Hum.  beliau menyampaikan bahwa tgl 24 Februari 2010 segera tayang Diklat Jarak Jauh materi Aqidah Akhlak dan Bahasa Inggris, untuk itu peserta Diklat yang mengampu materi tersebut agar menyiapkan diri, bahkan kalau bisa dari Diklat ini menghasilkan produksi siaran yang bisa langsung tayang.
Peserta sangat senang dan memberikan apresiasi terhadap Bapak Drs. Asmu’i, Sh., M.Hum yang disela-kela kesibukan beliau masih sempat memberikan perhatian khusus dan memotivasi peserta Diklat agar betul-betul mengikuti setiap kegiatan dan menghasilkan produk yang layak jual. 
Setelah itu diberikan materi teknik editing oleh pembimbing. Untuk proses editing audio dan video yang dahulu hanya dapat dilakukan dengan menggunakan 1 player video dan 1 recorder video dimana cara ini hanya mengizinkan transisi cut to cut. Selanjutnya, muncul penyuntingan dengan 2 player dan 1 recorder yang dilengkapi mixer. Teknik penyuntingan ini menyediakan transisi dissolve, wipe, dan beberapa pola. Teknologi ini disebut A/B Roll Editing atau biasa disebut Linier Editing. Karena sifatnya yang linier, jika terjadi perubahan atau revisi di bagian depan ataupun tengah maka seluruh rangkaian di belakangnya harus diulang kembali. Hadirnya teknologi digital video editing mampu menjawab persoalan yang ada di linier editing. Untuk belajar editing, peserta diajak ke ruang laboratorium komputer, dibagi menjadi dua kelompok, setiap peserta secara langsung praktek mengedit satu atau dua film menjadi sebuah film utuh dengan menggunakan program Adobe Premier. Materi ini yang dirasa sangat kurang waktunya karena hanya 8 JP sedangkan editing diperlukan sekali dalam pembuatan setiap produk siaran khususnya feature dan monolog.
Selanjutnya peserta melakukan praktek produksi siaran. Namun sehari sebelumnya diawali dengan pembuatan naskah sesuai pembagian kelompok, yaitu : Monolog, Talk Show dan  Feature. Selama dua hari dengan dipandu masing-masing pembimbing peserta membuat tema sesuai dengan latar belakang spesialisasinya. Kelompok monolog yang didominasi oleh pengampu mata diklat Matematika dalam hal ini diwakili oleh Ibu Dr. Atiyah Suharti, M.Pd dan Bapak Drs. Djarot Siswanto, M.Pd. Kemudian Kelompok Bahasa dan Sains membuat produksi siaran feature, masing-masing lokasinya berbeda kelompok Bahasa ke SMP Muhammadiyah Sleman dan kelompok Kimia Fisika ke Pasar Bringharjo untuk mengambil gambar tentang penyepuhan dan pelapisan Emas. Kelompok Talk Show yang terbagi 3 kelompok kecil memproduksi tiga tema yaitu: Pengembangan PAI di Sekolah, Nikah Sirri dan Jejaring Sosial Facebook.
Diklat ini berakhir tanggal 20 Februari 2010 ditutup oleh Bapak Sekretaris Badan Litbang dan Diklat Drs. H.Asmu’i, SH.,M.Hum, dalam sambutannya beliau menyampaikan terima kasih kepada MMTC atas kerjasamanya selama ini, kita ingin banyak belajar dari instansi lain kedepan diusahakan ada pelatihan dengan program dan materi yang berbeda.
Dilanjutkan sambutan oleh pimpinan MMTC Bapak Dr. Ir. Sasongko Pramono Hadi,DEA beliau menyampaikan bahwa teknologi memberi kemudahan bagi kita, lima tahun kedepan akan digarap kerjasama internasional, dan saat itu SDM (WI) Kementerian Agama akan dilibatkan proses produksi. Selanjutnya beliau memberi apresiasi, karena dalam waktu dua pekan bisa menghasilkan tujuh paket produksi masing-masing lima produksi di studio dan dua diluar studio. (Umi)

* Tulisan ini telah dimuat pada Diklat News Edisi 1 Tahun 2010, penulis adalah Umi Maisaroh, seorang widyaiswara pada Pusdiklat Kementerian Agama
















PRODUKSI SIARAN TELEVISI KE - 4



Oleh : Yoki Yusanto

Pertemuan Ke-4

Tahapan Pelaksanaan Produksi Siaran Televisi

Sebelum kita bergerak melangkah membangun sebuah tim produksi mata acara televisi kita kenali dulu apa saja yang bisa ditampilkan di layar kaca. Program Mata Acara televisi berbagai macam jenisnya, kita amati dahulu satu-persatu.

Film Dokumenter (Documentary Film)

Dokumenter menyajikan realita melalui berbagai cara dan dibuat untuk berbagai macam tujuan. Namun harus diakui, film dokumenter tak pernah lepas dari tujuan penyebaran informasi, pendidikan dan propaganda bagi orang atau kelompok tertentu. Intinya film dokumenter tetap berpijak pada hal-hal senyata mungkin. Seiring dengan perjalanan waktu, muncul berbagai aliran dari film dokumenter misalnya dokudrama (docudrama). Dalam dokudrama, terjadi reduksi realita demi tujuan-tujuan estetis, agar gambar dan cerita menjadi lebih menarik. Sekalipun demikian, jarak antara kenyataan dan hasil yang tersaji lewat dokudrama biasanya tak berbeda jauh. Dalam dokudrama, realita tetap jadi pakem pegangan.

Film Cerita Pendek (Short Film)

Durasi film cerita pendek biasanya di bawah 60 menit. Di banyak Negara seperti Jerman, Australia, Kanada dan Amerika Serikat, film cerita pendek dijadikan laboratorium eksperimen dan batu loncatan bagi seseorang/sekelompok orang untuk kemudian memproduksi film cerita panjang. Jenis film ini banyak dihasilkan oleh para mahasiswa jurusan film atau orang/kelompok yang menyukai dunia film dan ingin berlatih membuat film dengan baik. Sekalipun demikian, ada juga yang memang mengkhususkan diri untuk memproduksi film pendek, umumnya hasil produksi ini dipasok ke rumah-rumah produksi atau saluran televisi.
Film Cerita Panjang (Feature – Length Film)
Film dengan durasi lebih dari 60 menit lazimnya berdurasi 90-100 menit. Film yang diputar di bioskop umunya termasuk dalam kelompok ini. Beberapa film, misalnya Dances With Wolves, bahkan berdurasi lebih 120 menit. Film-film produksi India rata-rata berdurasi hingga 180 menit.

Film-film Jenis Lain

Profil Perusahaan (Corporate Profile)

Berkaitan dengan kegiatan Film diproduksi untuk kepentingan institusi tertentu berkaitan dengan kegiatan yang mereka lakukan, missal tayangan “Usaha Anda” di SCTV. Film ini sendiri berfungsi sebagai alat bantu presentasi.

Iklan Televisi (TV Commercial)

Film ini diproduksi untuk Kepentingan penyebaran informasi, baik tentang produk (iklan produk) maupun layanan masyarakat (iklan layanan masyarakat atau public service announcement/PSA). Iklan produk biasanya menampilkan produk yang diiklankan ‘secara eksplisit’, artinya ada stimulus audio-visual yang jelas tentang suatu produk tersebut. Sedangkan iklan produk terhadap fenomena sosial yang diangkat sebagai topik iklan tersebut. Sedangkan iklan layanan masyarakat menginformasikan kepedulian produsen suatu produk terhadap fenomena sosial yang diangkat sebagai topik iklan tersebut. Dengan demikian, iklan layanan masyarakat umumnya menampilkan produk secara implisit.

Program Televisi (T V Programme)

Program ini diproduksi untuk konsumsi pemirsa televisi. Secara umum, program televisi dibagi menjadi dua jenis yakni cerita dan non cerita. Jenis cerita ini terbagi menjadi dua kelompok yakni kelompok fiksi dan kelompok non fiksi. Kelompok fiksi memproduksi film serial (TV series), film televisi/FTV (popular lewat saluran televisi SCTV) dan film pendidikan, film dokumenter atau profil tokoh dari daerah tertentu. Sedangkan program non cerita sendiri menggarap variety show, TV quiz, talkshow dan liputan/ berita.

Video Klip (Music Video)

Sejatinya video klip adalah sarana bagi para produser musik untuk memasarkan produknya lewat medium televisi. Dipopulerkan pertama kali lewat saluran televisi MTV 1981. Di Indonesia, video klip ini sendiri kemudian berkembang sebagai bisnis yang menggiurkan seiring dengan pertumbuhan televisi swasta. Akhirnya video klip tumbuh sebagai aliran dan industry tersendiri. Beberapa rumah produksi mantap memilih video klip menjadi bisnis utama (core business) mereka. Di Indonesia, tak kurang dari 60 video klip diproduksi tiap tahunnya. (Heru Effendy, Membuat Fim itu Gampang)

Tahapan Produksi Mata Siaran Televisi

Pra Produksi (Pre Production)

Pengalaman saya (penulis, red) yang tergabung dalam tim produksi Cineraya Pranadipta, salah satu divisi produksi kreatif di stasiun televisi nasional Lativi tahun 2003-2004. Lativi membagi beberapa divisi dalam mengisi mata acara televisi. Divisi News & Ca (Current Affair) menjadi tumpuan utama sebagai divisi yang memproduksi tayangan berita. Tayangan berita televisi yang diproduksi saat itu Lativi Pagi, Lativi Siang, Lativi Sore, Dialog dan lain-lain. Divisi Produksi Lativi memproduksi tayangan Dangdut, Wanita-wanita (program dialog tentang wanita) dan lainnya. Sedangkan divisi Cineraya Paradipta, yang dipimpin oleh Slamet Raharjo Djarot, Maestro Film Indonesia. Memproduksi sinema elektronik (sinetron), Talkshow, Asmarandana, Desah Malam. Tim inti produksi Cineraya yang hanya berjumlah tujuh orang ini pun memproduksi tayangan Infotainment Paparazi dan program mahasiswa Almamater.

Sebelum memproduksi sebuah mata acara yang dilaksanakan di luar studio (out door) atau dalam studio (in dor), tim produksi haruslah memiliki tempat atau kantor sebagai base camp. Semua Treatment atau skenario dan usulan nama program hingga proses produksi dilakukan dalam rapat di kantor yang terdapat di lingkungan Lativi.

Usulan biasanya didiskusikan semua tim produksi, usulan dalam bentuk proposal diserahkan oleh produser atau penggagas mata acara kepada Eksekutif Produser. Lalu proses presentasi dan diskusi serta fokus utama tujuan sebuah acara harus disampaikan. Presentasi dilaksanakan agar produksi yang diproduksi mempunyai acuan dan standar operasional prosedur (SOP) . Naratama Sutaradara mata acara televisi menulis, Dalam mengekplorasi berbagai ide kreatif yang dapat tertuang dan diproduksi secara apik. Menganalisis target penonton, jam tayang, posisi stasiun televisi, dan studi komparasi terhadap kompetitor acara di stasiun televisi lain.

Ada hal menarik, dalam setiap presentasi mata acara, para produser selalu ditanya goal yang akan dicapai tetang program yang dibuat. Slamet Raharjo menuntut, efek apa yang akan didapatkan, setelah penonton menyaksikan tayangan kita buat. Tidak hanya itu, tujuan utama kita memunculkan tematik harus dijelaskan pula. Bobot atau kekuatan tema yang diproduksi pada divisi Cineraya Lativi, lebih diutamakan. Bahkan tidak mempersoalkan berapa banyak yang akan menonton. Seperti contoh tema tentang isu pribumi dan non pribumi bagi ethnis Tionghoa dijadikan tema utama dalam tayangan infotainment paparazzi. Padahal jelas biasanya infotainment menyangkut gossip selebritis hingga kawin – cerainya. Namun Slamet mangangkat tema yang ke luar dari isu infotainment pada umunya yang seragam di tiap stasiun televisi.
Persiapan Pra Produksi di antaranya mempersiapkan tim di luar tim inti yang akan menunjang produksi. Diantaranya mempersiapkan Desain Produksi. Pengertian desain produksi adalah sebuah rancangan produksi yag dipersiapkan untuk memproduksi sebuah mata acara. Tidak berbeda jauh dengan film, desain produksi siaran televisi setidaknya harus memperhatian hal-hal sebagai berkut ;

1. Jenis mata acara apa yang akan diproduksi ?
2. Naskah ini punya siapa ?
3. Menggunkan format video apa ?
4. Bagaimana memulai Shooting ?
5. Seluk beluk anggaran.
6. Dari mana dananya ?
7. Mempersiapkan crew.
8. Menyusun tim produksi.
9. Mempersiapkan pemeran atau pengisi acara.

Perkembangan yang terjadi di dunia pertelevisian kian kemari adalah kegiatan kreativitas yang sudah tidak menentu. Orientasi laba tujuan utama pemilik modal secara ekonomi, regulasi pemerintah yang kunjung menuai polemik tetang penyiaran, serta lembaga kontrol yang memang tak berdaya. Harus dilawan dengan tayangan yang berkualitas. Menuntut kecerdasan sang kreator televisi dalam memproduksi mata acara televisi. Kini kreator televisi dituntut lebih dapat menggali pelbagai tayangan yang harus mencerdasarkan penonton. Baik hiburan maupun berita.

Sunardian Wirodono dalam buku berjudul Matikan TV-Mu berpandangan, Berbagai bentuk materi siaran, apalagi yang berjenis hiburan seperti sinetron, kuis, infotainment, atau reality show sering lepas dari norma-norma kepatutan sebuah karya kreatif, yang semestinya juga harus bertanggung jawab pada tumbuhnya eksplorasi masyarakatnya. Munculnya berbagai kritik dan keluhan sebagian masyarakat mengenai kualitas tayangan program televisi di Indonesia menunjukan hal itu dengan jelas. Misal, banyak sinetron yang bukan saja rendah kualitas tematik, setting sosial, serta miskin dalam pendalaman materi. Apalagi, rendahnya kreativitas pihak produser itu bergabung dengan rendahnya sensibilitas pihak pengelola televisi. Kedua hal tersebut menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap rendahnya kreativitas pekerja kreatif.

Jenis Tayangan Mata Acara televisi

1. A. News, Jenis acara televisi banyak, sebut saja program News. Ini sebuah identitas khusus sebuah stasiun televisi. Stasiun televisi swasta nasional maupun lokal menempatkan siaran berita paling utama. Berlomba menyajikan tayangan berita dengan perbedaan angle (sudut pandang) sajian. Askurifai Baksin pakar komunikasi dari Universitas Islam Bandung menyebutkan tayangan berita televisi terfokus pada spot news berita singkat. Liputan 6 pagi, siang, petang dan malam serta Liputan 6 terkini mengedepankan berita Straight News secara Spot News. Begitu pula Metro TV dengan Metro Pagi, Metro Siang, Metro Hari Ini dan Metro Malam. Belum lagi Head Line News terfokus pada berita singkat. Banyak lagi, ada Buletin Pagi, Buletin Siang, Buletin Malam dan Seputar Indonesia (RCTI), Fokus (Indosiar) dll. Berbeda di Trans TV, Berita yang lebih mengedepankan In Depth Reporting. Trans TV mengemas sajian berita dengan tayangan Investigasi di program Reportase Sore. Format Berita televisi yang mengedepankan Aktualitas dan Faktualitas, biasanya dilengkapi dengan Feature News, Sport News. Kini bertambah lagi bagiannya, yaitu Jurnalisme Kuliner yang termasuk pada segment Feature News.

B. Drama (FIKSI), dalam bukunya Kunci Sukses Menulis Skenario, Elizabeth Lutters membagi drama ke beberapa jenis drama fiksi. Pengertiannya adalah, jenis cerita fiksi yang bercerita tentang kehidupan dan perilaku manusia sehari-hari. Jenis cerita drama jika mengikuti teori Aristoteles, hanya digolongkan menjadi tragedy, komedi, dan gabungan antara tragedy dan komedi.

Drama Tragedi, adalah cerita yang berakhir dengan duka lara atau kematian. Sedangkan Drama

Komedi, terbagi menjadi beberapa jenis a.l :

Komedi Situasi, cerita lucu yang kelucuannya bukan berasal dari para pemain, melainkan karena situasinya.

Komedi Slapstic, Cerita lucu yang diciptakan dengan adegan menyakiti para pemainnya, atau dengan gerak vulgar dan kasar.

Komedi Satire, Cerita lucu yang penuh sindiran tajam.

Komedi Farce, Cerita lucu yang bersifat dagelan, sengaja menciptakan kelucuan-kelucuan dengan dialog dan gerak laku lucu.








Pernah menyaksikan film animasi keren? Sebut saja Final Fantasy atau Spririted Away. Tapi pernah terbayang enggak bagaimana proses produksinya? Wih, penuh debat, begadang, dan ditutup dengan "masuk rumah sakit".

Membangun cerita

Dalam proses perencanaan, biasanya mulailah dibuat ide-ide cerita dan storyboard atau e-konte. Ide cerita diekspresikan dalam bentuk sinopsis. Biasanya puluhan hingga ratusan preproduction painting dihasilkan untuk mengeksplorasi kemungkinan cerita. Preproduction painting adalah visualisasi awal cerita. Preproduction painting di Amerika dilakukan satu tim berisi lima hingga sepuluh orang. Dalam dunia anime Jepang terkadang preproduction painting dilakukan beberapa orang.

Berbeda dengan studio animasi di Amerika, di mana delapan sampai sepuluh orang diundang menjadi storyboard artist, biasanya di Jepang hanya ada satu orang yang menjadi storyboard artist. Ia biasanya selalu sinonim dengan sutradara. Biasanya pada saat ini character designer mulai diberi tugas. Amat jarang ada film seperti Lilo and Stitch di Amerika. Dalam film tersebut penulis naskah, storyboard artist dan sutradaranya dirangkap dua orang, Chris Sandres dan Dean Deblois.

Cerita dalam dunia animasi Amerika selalu berubah. Dikutip dari Head Storyboard Artist untuk Mulan, Chris Sanders, "Tadinya kami berpikir untuk menjadikan Mulan komedi romantik seperti Tootsie. Setelah berkali-kali kami coba, tidak ada yang sukses, hingga saya akhirnya kesal sendiri. Pada akhirnya kami berusaha membuat kepribadiannya seakurat mungkin dengan versi legenda Cinanya, yaitu menjadikan Mulan sebagai anak perempuan yang berabdi karena cara lain tidak berhasil. Saya lega atas perubahan tersebut."

Beberapa karakter setelah ceritanya diedit berulang kali akan dibuang. Contohnya, untuk film Pocahontas, seharusnya ada kalkun bernama Red Feather tetapi ia tidak signifikan sehingga tidak dipakai .Bila tidak ya diubah. "Saya disuruh mendesain lima model ’Mulan’ untuk Mulan", ujar Chen Yi Chang, sang character designer dari film tersebut. "Hal tersebut tidak langsung jadi, melainkan perlahan-lahan sesuai dengan perubahan cerita."

Pentingnya "storyboard"

Biasanya di Amerika dan Jepang ada sebuah sesi bernama story meeting di mana para storyboard artist berkumpul dan membahas sebuah cerita. Dari rapat tersebut akan diputuskan adegan yang paling sesuai. Tidak jarang ada perdebatan hebat di situ.

Storyboard umumnya masih dalam fase yang amat kasar. Tidak jarang dalam sebuah panel storyboard, gambarnya dibuat agak asal-asalan. Storyboard untuk film animasi umumnya terlihat seperti komik. Perbedaannya dengan komik, dalam storyboard masih ada catatan-catatan kecil di sekitar gambar entah untuk diperbaiki atau dipertimbangkan. Tidak jarang, terutama di dunia animasi Amerika, panel demi panel storyboard sebuah film dibentangkan dari ujung satu gedung ke ujung yang lain. Sampai 1984, studio Disney masih melakukan hal ini. Beberapa studio animasi mengambil jalan yang lebih praktis, yaitu membukukan storyboard-storyboard tersebut untuk pegangan tim produksi.

Untuk mengetes efektivitas sebuah storyboard, biasanya diadakan screening Leica Reel. Leica Reel merupakan kumpulan storyboard yang direkam dengan kamera. Yang bagus terlihat di atas kertas, belum tentu bagus di layar bioskop. Itulah alasan diadakannya Leica Reel.

Setelah storyboard dirapatkan dan disepakati, maka proses layout dan animasi dimulai. Layout adalah blueprint dari komposisi sebuah adegan. Ada dua jenis layout, yaitu tonal dan linear. Layout tonal dibuat untuk mengatur daerah sinar dan bayangan sebuah adegan. Sementara itu, layout linear dibuat untuk menggambarkan detail sebuah adegan. Biasanya setelah layout tersebut diberi dan disetujui, maka departemen background akan mengambil alih dan memproduksi versi berwarnanya. Tidak jarang komputer banyak berperan dalam proses ini. Walaupun masih diwarnai dengan tangan, Tom Cardone-anggota tim produksi film animasi Hercules-mengakui komputer cukup berperan. "Kalau dulu, perbaikan sebuah background bisa memakan waktu dua hari. Sekarang, 45 menit pun jadi."

Butuh banyak orang

Dalam proses animasi, orang-orang yang dilibatkan tidak sedikit. Ada dua departemen besar, yaitu departemen animasi dan departemen clean-up. Tingkatan jabatan dalam proses tersebut adalah, inbetweener, assistant animator, animator, dan supervising animator. Dalam departemen animasi sendiri masih ada dua bagian, yaitu character animation dan special effects animation. Sudah terlihat dari namanya bahwa character animation ditugaskan menggambar karakter. Sementara itu, spesial efek mengurusi hal-hal seperti menggambarkan rintik hujan, petir, asap, dan lain-lain. Walaupun sudah ada komputer untuk mengurusi hal ini, beberapa studio animasi enggan meninggalkan efek-efek yang digambar dengan tangan. Keuntungan efek yang masih digambar dengan tangan antara lain adalah dimungkinkannya stylization efek, yaitu gambaran efek-efek yang bisa disesuaikan dengan gaya artistik arahan sutradara atau art director film tersebut.

Setelah proses animasi tersebut selesai, masih akan dilakukan proses clean-up. Seperti namanya, clean-up bertugas untuk "membersihkan". Membersihkan? Seperti yang telah disinggung di atas, tingkatan tertinggi dalam pekerjaan meng-animasi adalah supervising animator. Belum tentu para asisten sang supervisor dapat menggambar persis sama seperti gambar sang supervisor. Kerepotan ditambah apabila sang supervising animator punya kebiasaan membuat gambar-gambar yang amat kasar (seperti Glen Keane). Agar di layar bioskop semuanya dapat terlihat rapi jali, maka fungsi petugas clean-up menjadi penting.

Hal ini tidaklah gampang karena mereka harus memperhatikan detail-detail kecil seperti jumlah lekuk rambut (apabila ada) pada sebuah karakter, lipatan-lipatan bajunya, kebersihan kertas dari debu grafit, dan lain-lain. Tidak jarang mereka memakai sarung tangan saking berhati-hatinya. Beberapa orang merasa nama departemen satu ini terlalu merendahkan pentingnya peran para pegawai clean-up. Namun, sampai sekarang belum ada yang dapat mengganti nama tersebut dengan yang lebih baik. Setelah proses clean-up selesai, hasilnya akan ditransfer ke cel dan diwarnai oleh departemen Ink and Paint.

Akhirnya, film tersebut akan direkam dengan kamera khusus, yaitu multiplane camera. Akhir-akhir ini metode yang lebih popuer adalah memproses penggabungan background dan animasi menjadi satu di dalam komputer.

Mengisi suara

Sulih suara sebuah film dapat dilakukan sebelum atau sesudah filmnya selesai. Kebanyakan sulih suara dilakukan saat film masih diproses, tetapi terkadang seperti dalam animasi Jepang, sulih suara justru dilakukan setelah filmnya selesai dibuat.

Scoring, atau penataan latar musik film, biasanya dilakukan saat filmnya sudah akan segera selesai produksinya seperti dalam film-film live-action.

Komposer-komposer musik yang melakukan scoring tersebut tidak terikat untuk bekerja selama beberapa tahun, tetapi hanya dalam satu film. Mereka dapat melakukan tiga atau empat proyek sekaligus ketika menggubah musik untuk satu film. Contohnya adalah John Williams, Alan Menken, Danny Elfman, dan Alan Silvestri. Dari Jepang mereka memiliki Yoko Kanno, Jo Hisaishi,Yuki Kajiura, Hajime Mizoguchi, dan Kenji Kawai sebagai komposer andalan mereka.

Sampai saat ini masih tidak jelas seberapa terlibatnya para komposer dalam dunia anime terhadap film-film yang mereka kerjakan. Hayao Miyazaki cukup tergantung kepada komposer langganannya, Joe Hisaishi. Sebelum Jo Hisaishi akan memproduksi full-scoring film-film dari Miyazaki, ia akan memproduksi prototipenya terlebih dahulu yang biasanya digunakan sang maestro sebagai inspirasinya selama bekerja.

Pekerjaan ini bukanlah hal yang mudah. Ada in-joke di studio Disney bahwa bila pekerjaan selesai, semua animator akan berbaring di rumah sakit dalam keadaan koma. Hal ini dikarenakan menjelang deadline kebanyakan mereka akan berada di studio selama berhari-hari dengan kondisi kurang tidur. Beberapa orang pada saat itu hanya akan makan sereal tanpa susu dan bergelas-gelas kopi atau coke.

Jadi setelah mengetahui proses pembuatan film animasi yang belibet n rumit abiz...tegakah kita untuk memberikan komentar negatif setelah menontonnya???paling gak...hargai usaha para pembuatnya...itu lebih baik...

Selamat menikmati film animasi!













LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN
DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR
SEKOLAH TINGGI FILM DAN TELEVISI
DI JAKARTA
Dengan Penekanan Desain Konsep Arsitektur Renzo Piano
Diajukan untuk memenuhi sebagian
persyaratan guna memperoleh gelar
Sarjana Teknik
Diajukan Oleh :
ARDYANA FAHMIADI
L2B 097 217
Periode 77
JANUARI - APRIL 2002
JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2002
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dunia audio visual, baik itu film maupun televise mempunyai daya tarik dan
pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Film dan televise bukan hanya
sebagai sarana hiburan namun juga sebagai sarana informasi yang kehadirannya tidak
dapat dipungkiri lagi merupakan suatu kebutuhan bagi semua lapisan masyarakat.
Terlebih lagi dengan dunia yang ikut melatarbelakanginya seperti perkembangan dunia
teknologi yang terus mengalami peningkatan dan inovasi serta juga dunia kehidupan para
actor/aktris film dan televisi yang selalu menarik untuk disimak.
Perfileman Indonesia, setelah mengalami ‘tidur panjang’ akibat persaingan
dengan film asing dan media televisi sehingga tidak dapat menjadi tuan rumah di negeri
sendiri, tampaknya mulai bangkit kembali. Dengan pelopor sineas-sineas muda, mereka
menghasilkan karya-karya yang berkualitas. Dimulai dari film ‘Kuldesak’, ‘petualangan
sherina’,’Bintang Jatuh’,’Pasir Berbisik’,’Beth’,’Jakarta Project’,’Jelangkung’,hingga
’Ada Apa Dengan Cinta’ yang pada umumnya membidik pasar remaja dan ternyata
mendapat sambutan yang luar biasa antusias.
Semangat berfilm memang semakin terasa menggejala di kalangan anak muda
dewasa ini. Gejala itu terlihat tidak saja pada kelompok muda yang berlatar pendidikan
seni, atau lebih focus lagi seni film. Siapapun, dengan latar pendidikan apapun, ramairamai
menonton, berdiskusi, sampai membuat film.
Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, atau yang di
luar Jawa seperti Bali, Lampung, dan Makassar, komunitas seperti ini bertebaran. Maka,
tahun ini kegiatan film tidak saja bisa disaksikan lewat Festifal Film Asia Pasifik ke-46 di
Jakarta dan Jakarta International Film Festival, tapi juga Festival Film-Vidio Independen
Indonesia (FFVII). Festival yang diprakarsai Komunitas Film Independen itu
menyertakan puluhan film yang telah diseleksi. Sebelum ada seleksi, lebih dari seratus
film disertakan. FFVII ke-3 ini memang menampung film-video dengan media apapun,
dari siapapun, dari siswa SMP hingga lulusan perguruan tinggi dan dalam durasi berapa
lamapun (Suara Pembaruan, 23 Des 2001).
Adapun televisi sebagai kebudayaan audio visual baru yang hadir setelah film
muncul sebagai alternatif hiburan dan sumber informasi masyarakat sehingga sempat
menjadi salah satu penyebab mundurnya perfilman Indonesia, khususnya dengan
kemunculan stasiun TV swasta baru yang mendampingi TVRI sebagai stasiun
pemerintah. Hadir dengan kemasan yang menarik, stasiun TV swasta menawarkan
program-program siaran baik hiburan maupun berita yang mempu menarik minat
pemirsa.
Dunia pertelevisian di Indonesia, dalam dua dasawarsa terakhir mengalami
perkembangan yang sangat pesat. Dimulai oleh RCTI sebagai stasiun televise swasta
pertama di Indonesia (24 Agustus 1989) mendampingi stasiun pemerintah TVRI yang
sudah ada sejak 17 Agustus 1962, hingga kini Indonesia memiliki 10 stasiun telivisi
swasta nasional serta tidak menutup kemungkinan munculnya TV-TV swasta baru di
masa yang akan datang. Munculnya TV-TV swasta baru juga berimbas pada semakin
menjamurnya rumah-rumah Produksi (Production House) yang menjadi pemasok acara
bagi TV swasta tersebut. Setidaknya terdapat 500 Rumah Produksi tersebar di seluruh
Indonesia, dimana 317 diantaranya tergabung dalam Asosiasi Rumah Produksi Indonesia,
ARPI (www.cakram.com/mei00.htm).
Proses produksi suatu film dan acara televise, baik oleh stasiun TV maupun
Production House melibatkan suatu kerabat kerja yang masing-masing memiliki peran
dan tanggung jawab sesuai dengan bidang pekerjaanya. Mulai dari produser, sutradara,
kameramen, penulis naskah, hingga piƱata set. Dengan demikian dapat dipahami bahwa
lahan pekerjaan di bidang pertelevisian menjadi semakin terbuka dan penuh persaingan
serta menuntut dimilikinya kemampuan professional pada bidang pekerjaan tertentu.
Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia sampai saat ini masih menjadi pilihan
utama sebagai tempat berdirinya stasiun Televisi Swasta serta Rumah Produksi. Hal ini
dimungkinkan karena kegiatan bisnis, hiburan dan politik Indonesia yang menjadi
sumber siaran televise serta sarana prasarana produksi film masih terpusat di kota Jakarta.
Berdasarkan uraian diatas, maka keberadaan Sekolah Tinggi Film dan Televisi di
Jakarta dapat menjadi jawaban atas kebutuhan akan tenaga kerja di bidang pertelevisian
sekaligus sebagai ajang peningkatan keahlian para professional di bidang produksi film
dan siaran televisi. Dengan penekanan desain arsitektur Renzo piano, diharapkan muncul
suatu bangunan pendidikan yang atraktif mengingat sifatnya yang komersial.
Sekolah yang dirancang merupakan suatu wadah pendidikan bagi masyarakat
umum (lulusan SLTA) yang ingin berkecimpung di bidang film dan televisi sekaligus
wadah pelatihan bagi para professional di bidang film dan televisi yang berkeinginan
untuk meningkatkan keahliannya melalui short course dengan jangka waktu 1-6 hari.
Sekolah Tinggi Film dan Televisi dengan kelengkapannya seperti studio film dan siaran
TV, studio rekaman, studio pasca produksi lengkap dengan perlengkapan computer
beserta ruang kuliah menampung peserta pendidikan dan pelatihan dengan berbagai
bidang, baik di bidang teknik produksi film dan siaran TV, seperti studio engineering,
lighting, sound production, animasi, editing dan teknik kamera, maupun bidang
manajemen produksi misalnya perencanaan program siaran, penulisan naskah, serta
teknik reportasi.
1.2. Perumusan Masalah
Permasalahan dalam pembahasan Sekolah Tinggi Film dan Televisi di Jakarta ini
adalah bagaimana merencanakan dan merancang wadah yang dapat menampung
kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan film dan televisi yang selain
memenuhi persyaratan fungsional juga mampu memberikan kondisi aman, nyaman dan
menarik bagi penggunanya, sehingga aktifitas yang berlangsung di dalamnya bisa
berjalan sesuai fungsi dan tujuannya.
1.3. Tujuan, Sasaran dan Manfaat
1.3.1. Tujuan
Memperoleh program perencanaan dan perancangan yang representative ditinjau
dari segi pemenuhan kebutuhan ruang beserta persyaratan teknisnya sekaligus dari segi
rasa aman dan nyaman bagi pengguna bangunan serta menciptakan suatu bangunan yang
menarik dari sisi arsitektural.
1.3.2. Sasaran
Sasaran yang dituju adalah tersusunnya landasan atau pedoman perencanaan dan
perancangan Sekolah Tinggi Film dan Televisi dengan penekanan desain konsep
arsitektur Rezo Piano.
1.3.3. Manfaat
Manfaat yang diperoleh adalah memenuhi salah satu persyaratan kelulusan
mahasiswa dan memperoleh gelar sarjana di Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro
serta dapat menambah wawasan dalam bidang pendidikan, film dan televisi.
1.4. Lingkup Pembahasan
Pembahasan dititikberatkan pada hal-hal yang berkaitan dengan disiplin ilmu
Arsitektur, seperti aspek fungsional, teknis, kinerja, kontekstual dan arsitektural;
sedangkan data, informasi dan permasalahan di luar bidang arsitektur sejauh masih
melatarbelakangi, mendasari dan berkaitan dengan factor-faktor perencanaan fisik
dibahas secara umum dengan asumsi rasional dan logis sebagai informasi pendukung,
antara lain mengenai tinjauan pendidikan tinggi, kurikulum, struktur organisasi serta
tinjauan tentang film dan televisi secara umum.
1.5. Metode Pembahasan
Metoda yang digunakan secara keseluruhan adalah deskriptif komparatif, yaitu
dengan mengadakan pengumpulan data primer maupun sekunder yang kemudian
diadakan analisa sehingga akan dihasilkan sintesa-sintesa. Studi banding pada bangunan
yang akan dirancang. Adapun metode pengumpulan data yang dilakukan adalah :
a. Survey lapangan, dilakukan untuk mendapatkan data primer, mengenai
kebutuhan ruang, besaran ruang, struktur organisasi, kelompok pengguna
bangunan, serta kegiatan dalam objek studi banding sebagai acuan bagi
perencanaan dan perancangan yang akan dilakukan
b. Studi literature, dilakukan untuk mendapatkan data sekunder, dalam hal ini
berupa studi kepustakaan mengenai teori pendidikan, pertelevisian, standar
ruang serta pengumpulan data informasi dan peta dari instansi terkait
c. Wawancara, dilakukan dengan pihak terkait untuk melengkapi data primer
mengenai topic yang dibahas.
1.6. Sistematika Pembahasan
Penulisan Landasan program perencanaan dan perancangan (LP3A) ini
menggunakan sistematika pembahasan sebagai berikut :
BAB I Pendahuluan
Berisi tentang pokok-pokok pemikiran yang melatarbelakangi pemilihan
judul, tujuan dan sasaran, manfaat pembahasan, lingkup pembahasan,
metode pembahasan dan sistematika pembahasan
BAB II Tinjauan Pendidikan Film dan Televisi di Jakarta
Berisi pembahasan mengenai pendidikan tinggi beserta peraturan
pendiriannya, tinjauan film dan televisi, proses produksi film dan siaran
televisi, serta studi banding pada beberapa objek yang relevan untuk
mendapat acuan mengenai kegiatan, pemakai bangunan, kebutuhan dan
besaran ruang, kurikulum pendidikan dan pelatihan, serta kecenderungan
minat terhadap sekolah film dan televise di Jakarta.
BAB III Tinjauan Sekolah Tinggi Film dan Televisi di Jakarta
Berisi tinjauan mengenai kota Jakarta dan potensinya sebagai lokasi
Sekolah Tinggi yang dirancang, serta rumusan dasar bentuk Sekolah
Tinggi yang direncanakan.
BAB IV Kesimpulan, Batasan dan Anggapan
Berisi tentang kesimpulan pembahasan, batasan permasalahan dan lingkup
bahasan yang hanya berkaitan dengan perencanaan dan perancangan
Sekolah Tinggi Film dan Televisi di Jakarta, serta anggapan yang
merupakan hal-hal yang mempengaruhi proses perancangan yang
diposisikan pada suatu keadaan ideal.
BAB V Pendekatan Program Perencanaan dan Perancangan
Berisi tentang analisa berbagai aspek perancangan (fungsional, struktur,
utilitas, akustik, penekanan desain, dan lokasi tapak), pendekatan standard
an studi ruang untuk mendapatkan besaran ruang serta pendekatan
pemilihan tapak.
BAB VI Konsep dan Program Dasar Perancangan
Berisi program dasar perancangan hasil pendekatan dan analisis, uraian
konsep dasar perancangan dan factor-faktor penentunya.
















Tahapan Pelaksanaan Produksi Siaran Televisi

Sebelum kita bergerak melangkah membangun sebuah tim produksi mata acara televisi kita kenali dulu apa saja yang bisa ditampilkan di layar kaca. Program Mata Acara televisi berbagai macam jenisnya, kita amati dahulu satu-persatu.

Film Dokumenter (Documentary Film)

Dokumenter menyajikan realita melalui berbagai cara dan dibuat untuk berbagai macam tujuan. Namun harus diakui, film dokumenter tak pernah lepas dari tujuan penyebaran informasi, pendidikan dan propaganda bagi orang atau kelompok tertentu. Intinya film dokumenter tetap berpijak pada hal-hal senyata mungkin. Seiring dengan perjalanan waktu, muncul berbagai aliran dari film dokumenter misalnya dokudrama (docudrama). Dalam dokudrama, terjadi reduksi realita demi tujuan-tujuan estetis, agar gambar dan cerita menjadi lebih menarik. Sekalipun demikian, jarak antara kenyataan dan hasil yang tersaji lewat dokudrama biasanya tak berbeda jauh. Dalam dokudrama, realita tetap jadi pakem pegangan.

Film Cerita Pendek (Short Film)

Durasi film cerita pendek biasanya di bawah 60 menit. Di banyak Negara seperti Jerman, Australia, Kanada dan Amerika Serikat, film cerita pendek dijadikan laboratorium eksperimen dan batu loncatan bagi seseorang/sekelompok orang untuk kemudian memproduksi film cerita panjang. Jenis film ini banyak dihasilkan oleh para mahasiswa jurusan film atau orang/kelompok yang menyukai dunia film dan ingin berlatih membuat film dengan baik. Sekalipun demikian, ada juga yang memang mengkhususkan diri untuk memproduksi film pendek, umumnya hasil produksi ini dipasok ke rumah-rumah produksi atau saluran televisi.
Film Cerita Panjang (Feature – Length Film)
Film dengan durasi lebih dari 60 menit lazimnya berdurasi 90-100 menit. Film yang diputar di bioskop umunya termasuk dalam kelompok ini. Beberapa film, misalnya Dances With Wolves, bahkan berdurasi lebih 120 menit. Film-film produksi India rata-rata berdurasi hingga 180 menit.

Film-film Jenis Lain

Profil Perusahaan (Corporate Profile)

Berkaitan dengan kegiatan Film diproduksi untuk kepentingan institusi tertentu berkaitan dengan kegiatan yang mereka lakukan, missal tayangan “Usaha Anda” di SCTV. Film ini sendiri berfungsi sebagai alat bantu presentasi.

Iklan Televisi (TV Commercial)

Film ini diproduksi untuk Kepentingan penyebaran informasi, baik tentang produk (iklan produk) maupun layanan masyarakat (iklan layanan masyarakat atau public service announcement/PSA). Iklan produk biasanya menampilkan produk yang diiklankan ‘secara eksplisit’, artinya ada stimulus audio-visual yang jelas tentang suatu produk tersebut. Sedangkan iklan produk terhadap fenomena sosial yang diangkat sebagai topik iklan tersebut. Sedangkan iklan layanan masyarakat menginformasikan kepedulian produsen suatu produk terhadap fenomena sosial yang diangkat sebagai topik iklan tersebut. Dengan demikian, iklan layanan masyarakat umumnya menampilkan produk secara implisit.

Program Televisi (T V Programme)

Program ini diproduksi untuk konsumsi pemirsa televisi. Secara umum, program televisi dibagi menjadi dua jenis yakni cerita dan non cerita. Jenis cerita ini terbagi menjadi dua kelompok yakni kelompok fiksi dan kelompok non fiksi. Kelompok fiksi memproduksi film serial (TV series), film televisi/FTV (popular lewat saluran televisi SCTV) dan film pendidikan, film dokumenter atau profil tokoh dari daerah tertentu. Sedangkan program non cerita sendiri menggarap variety show, TV quiz, talkshow dan liputan/ berita.

Video Klip (Music Video)

Sejatinya video klip adalah sarana bagi para produser musik untuk memasarkan produknya lewat medium televisi. Dipopulerkan pertama kali lewat saluran televisi MTV 1981. Di Indonesia, video klip ini sendiri kemudian berkembang sebagai bisnis yang menggiurkan seiring dengan pertumbuhan televisi swasta. Akhirnya video klip tumbuh sebagai aliran dan industry tersendiri. Beberapa rumah produksi mantap memilih video klip menjadi bisnis utama (core business) mereka. Di Indonesia, tak kurang dari 60 video klip diproduksi tiap tahunnya. (Heru Effendy, Membuat Fim itu Gampang)

Tahapan Produksi Mata Siaran Televisi

Pra Produksi (Pre Production)

Pengalaman saya (penulis, red) yang tergabung dalam tim produksi Cineraya Pranadipta, salah satu divisi produksi kreatif di stasiun televisi nasional Lativi tahun 2003-2004. Lativi membagi beberapa divisi dalam mengisi mata acara televisi. Divisi News & Ca (Current Affair) menjadi tumpuan utama sebagai divisi yang memproduksi tayangan berita. Tayangan berita televisi yang diproduksi saat itu Lativi Pagi, Lativi Siang, Lativi Sore, Dialog dan lain-lain. Divisi Produksi Lativi memproduksi tayangan Dangdut, Wanita-wanita (program dialog tentang wanita) dan lainnya. Sedangkan divisi Cineraya Paradipta, yang dipimpin oleh Slamet Raharjo Djarot, Maestro Film Indonesia. Memproduksi sinema elektronik (sinetron), Talkshow, Asmarandana, Desah Malam. Tim inti produksi Cineraya yang hanya berjumlah tujuh orang ini pun memproduksi tayangan Infotainment Paparazi dan program mahasiswa Almamater.

Sebelum memproduksi sebuah mata acara yang dilaksanakan di luar studio (out door) atau dalam studio (in dor), tim produksi haruslah memiliki tempat atau kantor sebagai base camp. Semua Treatment atau skenario dan usulan nama program hingga proses produksi dilakukan dalam rapat di kantor yang terdapat di lingkungan Lativi.

Usulan biasanya didiskusikan semua tim produksi, usulan dalam bentuk proposal diserahkan oleh produser atau penggagas mata acara kepada Eksekutif Produser. Lalu proses presentasi dan diskusi serta fokus utama tujuan sebuah acara harus disampaikan. Presentasi dilaksanakan agar produksi yang diproduksi mempunyai acuan dan standar operasional prosedur (SOP) . Naratama Sutaradara mata acara televisi menulis, Dalam mengekplorasi berbagai ide kreatif yang dapat tertuang dan diproduksi secara apik. Menganalisis target penonton, jam tayang, posisi stasiun televisi, dan studi komparasi terhadap kompetitor acara di stasiun televisi lain.

Ada hal menarik, dalam setiap presentasi mata acara, para produser selalu ditanya goal yang akan dicapai tetang program yang dibuat. Slamet Raharjo menuntut, efek apa yang akan didapatkan, setelah penonton menyaksikan tayangan kita buat. Tidak hanya itu, tujuan utama kita memunculkan tematik harus dijelaskan pula. Bobot atau kekuatan tema yang diproduksi pada divisi Cineraya Lativi, lebih diutamakan. Bahkan tidak mempersoalkan berapa banyak yang akan menonton. Seperti contoh tema tentang isu pribumi dan non pribumi bagi ethnis Tionghoa dijadikan tema utama dalam tayangan infotainment paparazzi. Padahal jelas biasanya infotainment menyangkut gossip selebritis hingga kawin – cerainya. Namun Slamet mangangkat tema yang ke luar dari isu infotainment pada umunya yang seragam di tiap stasiun televisi.
Persiapan Pra Produksi di antaranya mempersiapkan tim di luar tim inti yang akan menunjang produksi. Diantaranya mempersiapkan Desain Produksi. Pengertian desain produksi adalah sebuah rancangan produksi yag dipersiapkan untuk memproduksi sebuah mata acara. Tidak berbeda jauh dengan film, desain produksi siaran televisi setidaknya harus memperhatian hal-hal sebagai berkut ;

1. Jenis mata acara apa yang akan diproduksi ?
2. Naskah ini punya siapa ?
3. Menggunkan format video apa ?
4. Bagaimana memulai Shooting ?
5. Seluk beluk anggaran.
6. Dari mana dananya ?
7. Mempersiapkan crew.
8. Menyusun tim produksi.
9. Mempersiapkan pemeran atau pengisi acara.

Perkembangan yang terjadi di dunia pertelevisian kian kemari adalah kegiatan kreativitas yang sudah tidak menentu. Orientasi laba tujuan utama pemilik modal secara ekonomi, regulasi pemerintah yang kunjung menuai polemik tetang penyiaran, serta lembaga kontrol yang memang tak berdaya. Harus dilawan dengan tayangan yang berkualitas. Menuntut kecerdasan sang kreator televisi dalam memproduksi mata acara televisi. Kini kreator televisi dituntut lebih dapat menggali pelbagai tayangan yang harus mencerdasarkan penonton. Baik hiburan maupun berita.

Sunardian Wirodono dalam buku berjudul Matikan TV-Mu berpandangan, Berbagai bentuk materi siaran, apalagi yang berjenis hiburan seperti sinetron, kuis, infotainment, atau reality show sering lepas dari norma-norma kepatutan sebuah karya kreatif, yang semestinya juga harus bertanggung jawab pada tumbuhnya eksplorasi masyarakatnya. Munculnya berbagai kritik dan keluhan sebagian masyarakat mengenai kualitas tayangan program televisi di Indonesia menunjukan hal itu dengan jelas. Misal, banyak sinetron yang bukan saja rendah kualitas tematik, setting sosial, serta miskin dalam pendalaman materi. Apalagi, rendahnya kreativitas pihak produser itu bergabung dengan rendahnya sensibilitas pihak pengelola televisi. Kedua hal tersebut menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap rendahnya kreativitas pekerja kreatif.

Jenis Tayangan Mata Acara televisi

1. A. News, Jenis acara televisi banyak, sebut saja program News. Ini sebuah identitas khusus sebuah stasiun televisi. Stasiun televisi swasta nasional maupun lokal menempatkan siaran berita paling utama. Berlomba menyajikan tayangan berita dengan perbedaan angle (sudut pandang) sajian. Askurifai Baksin pakar komunikasi dari Universitas Islam Bandung menyebutkan tayangan berita televisi terfokus pada spot news berita singkat. Liputan 6 pagi, siang, petang dan malam serta Liputan 6 terkini mengedepankan berita Straight News secara Spot News. Begitu pula Metro TV dengan Metro Pagi, Metro Siang, Metro Hari Ini dan Metro Malam. Belum lagi Head Line News terfokus pada berita singkat. Banyak lagi, ada Buletin Pagi, Buletin Siang, Buletin Malam dan Seputar Indonesia (RCTI), Fokus (Indosiar) dll. Berbeda di Trans TV, Berita yang lebih mengedepankan In Depth Reporting. Trans TV mengemas sajian berita dengan tayangan Investigasi di program Reportase Sore. Format Berita televisi yang mengedepankan Aktualitas dan Faktualitas, biasanya dilengkapi dengan Feature News, Sport News. Kini bertambah lagi bagiannya, yaitu Jurnalisme Kuliner yang termasuk pada segment Feature News.

B. Drama (FIKSI), dalam bukunya Kunci Sukses Menulis Skenario, Elizabeth Lutters membagi drama ke beberapa jenis drama fiksi. Pengertiannya adalah, jenis cerita fiksi yang bercerita tentang kehidupan dan perilaku manusia sehari-hari. Jenis cerita drama jika mengikuti teori Aristoteles, hanya digolongkan menjadi tragedy, komedi, dan gabungan antara tragedy dan komedi.

Drama Tragedi, adalah cerita yang berakhir dengan duka lara atau kematian. Sedangkan Drama

Komedi, terbagi menjadi beberapa jenis a.l :

Komedi Situasi, cerita lucu yang kelucuannya bukan berasal dari para pemain, melainkan karena situasinya.

Komedi Slapstic, Cerita lucu yang diciptakan dengan adegan menyakiti para pemainnya, atau dengan gerak vulgar dan kasar.

Komedi Satire, Cerita lucu yang penuh sindiran tajam.

Komedi Farce, Cerita lucu yang bersifat dagelan, sengaja menciptakan kelucuan-kelucuan dengan dialog dan gerak laku lucu.