Senin, 07 Maret 2011

pendidikan dasar produksi siaran tv

Diklat Produksi Program Pendidikan Siaran Televisi
Senin, 10 Mei 2010 10:38 Admin
E-mailCetakPDF
Perkembangan teknologi multimedia khususnya yang berkaitan dengan audio dan video sangat pesat, untuk itu selama empat belas hari, sejak tanggal 07 s.d. 20 Februari 2010 diselenggarakan Diklat Produksi Program Pendidikan Siaran Televisi. Program ini dilaksanakan berkat kerja sama Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama dengan Sekolah Tinggi Multi Media MMTC Yogyakarta. Kegiatan yang berlangsung di kampus milik Kementerian Kominfo  diikuti 40 peserta yang terdiri dari para widyaiswara, penulis modul dan para ahli di lingkungan Pusdiklat, Balai Diklat Keagamaan, UIN Bandung dan STAIN Salatiga.
Diklat yang dibuka secara resmi oleh Kepala Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan, Ibu Hj.  Siti Maryam, S.Ag.,M.Pd bertujuan; Pertama, membekali Widyaiswara di lingkungan Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Kementerian  Agama agar mampu menyiapkan media ajar/materi diklat untuk siaran televisi. Kedua, menyiapkan tenaga pengajar/widyaiswara yang mampu menjadi narasumber/pemateri dalam acara siaran televisi. Ketiga, menyiapkan sumber daya manuasia yang mampu mengembangkan metode pembelajaran melalui siaran televisi. Lebil lanjut Ibu Kapus memberikan motivasi agar semua peserta memiliki A3 yaitu : Aku Bisa, Aku Krasan, Aku Tuman sebagai jawaban ungkapan yang disampaikan oleh bapak Drs. M. Suparwoto yang memberikan sambutan mewakili Pimpinan MMTC Bapak Dr. Ir. Sasongko Pramono Hadi, DEA. Dalam sambutannya beliau menyampaikan, peserta diklat jangan menjadi A3, yaitu: Aku Bisa, Aku Pernah Bisa, Aku Lupa. Selanjutnya beliau menyampaikan bahwa Diklat ini selain mempererat hubungan kerjasama antar Lembaga, juga akan menjadi ajang pertukaran informasi karena peserta Diklatnya adalah para intelektual dan profesional “Widyaiswara”.
Adapun materi yang disampaikan meliputi:
Strategi menjadi Narasumber Talk Show, Monolog untuk pembelajaran, mengelola audience, mempersiapkan materi termasuk GBIM
Teknik menulis Naskah, naskah narasumber, naskah feature dan monolog
Teknik Penyutradaraan (pengarah acara)
Teknik Pengambilan Gambar
Teknik Produksi Program siaran TV dan terahir praktik.
Selama pelatihan, peserta dengan antusias menerima materi-materi yang merupakan hal baru bagi widyaiswara. Seperti materi Strategi Menjadi Narasumber Program Pendidikan Siaran Televisi, di akhir sesi ini para peserta dituntut berakting secara monolog di depan kamera layaknya presenter sebuah televisi. Lebih istimewa lagi dan yang membuat “grogi” peserta, justru karena disaksikan langsung oleh bapak Sekretaris Badan Litbang dan Diklat, Drs. H. Asmuي, SH, M. Hum.
Hari ketiga materi Teknik Penyutradaraan (pengarah acara), sutradara adalah sebutan bagi seorang yang mempunyai profesi menyutradarai Program Acara Televisi, baik itu program acara drama maupun nondrama, baik itu produksi dengan single kamera maupun multi kamera. Pada intinya hasil akhir dari sebuah program acara televise melalui proses yaitu, proses produksi yang terdiri dari pra produksi, produksi, dan paska produksi yang ketiganya menyatu, tidak boleh terlewatkan. Apabila salah satu tingkat pengerjaan produksi itu hilang atau belum selasai, maka tugas sang sutradara masih belum tuntas. Dalam kesempatan lain peserta juga diajak masuk ke ruang Studio siaran televisi. Di lokasi Studio siaran, meskipun tidak sempat mengoperasikan berbagai macam alat rekaman yang sangat canggih, mereka cukup puas dengan memegang-megang peralatan yang harganya milyaran rupiah itu, bahkan tidak sedikit ber-pose, mengabadikan moment penting tersebut dengan kamera masing-masing.
Materi yang tidak kalah menarik adalah Teknik Pengambilan Gambar. Pada materi ini peserta tidak hanya dituntut menjadi kameramen, tapi juga harus menjadi obyek pengambilan gambar sehingga ketika ditampilkan hasilnya terjadi “ger-geran” karena muncul adegan-adegan lucu, seperti rebutan mike antara bu Umi dan pak Sholeh. Maklum, semua pemain dan kameramennya masih amatiran.
Pada hari ke-tujuh, peserta mendapat support dari Sekretaris Badan Litbang Dan Diklat Bapak Drs. H. Asmu'i, SH., M.Hum.  beliau menyampaikan bahwa tgl 24 Februari 2010 segera tayang Diklat Jarak Jauh materi Aqidah Akhlak dan Bahasa Inggris, untuk itu peserta Diklat yang mengampu materi tersebut agar menyiapkan diri, bahkan kalau bisa dari Diklat ini menghasilkan produksi siaran yang bisa langsung tayang.
Peserta sangat senang dan memberikan apresiasi terhadap Bapak Drs. Asmu’i, Sh., M.Hum yang disela-kela kesibukan beliau masih sempat memberikan perhatian khusus dan memotivasi peserta Diklat agar betul-betul mengikuti setiap kegiatan dan menghasilkan produk yang layak jual. 
Setelah itu diberikan materi teknik editing oleh pembimbing. Untuk proses editing audio dan video yang dahulu hanya dapat dilakukan dengan menggunakan 1 player video dan 1 recorder video dimana cara ini hanya mengizinkan transisi cut to cut. Selanjutnya, muncul penyuntingan dengan 2 player dan 1 recorder yang dilengkapi mixer. Teknik penyuntingan ini menyediakan transisi dissolve, wipe, dan beberapa pola. Teknologi ini disebut A/B Roll Editing atau biasa disebut Linier Editing. Karena sifatnya yang linier, jika terjadi perubahan atau revisi di bagian depan ataupun tengah maka seluruh rangkaian di belakangnya harus diulang kembali. Hadirnya teknologi digital video editing mampu menjawab persoalan yang ada di linier editing. Untuk belajar editing, peserta diajak ke ruang laboratorium komputer, dibagi menjadi dua kelompok, setiap peserta secara langsung praktek mengedit satu atau dua film menjadi sebuah film utuh dengan menggunakan program Adobe Premier. Materi ini yang dirasa sangat kurang waktunya karena hanya 8 JP sedangkan editing diperlukan sekali dalam pembuatan setiap produk siaran khususnya feature dan monolog.
Selanjutnya peserta melakukan praktek produksi siaran. Namun sehari sebelumnya diawali dengan pembuatan naskah sesuai pembagian kelompok, yaitu : Monolog, Talk Show dan  Feature. Selama dua hari dengan dipandu masing-masing pembimbing peserta membuat tema sesuai dengan latar belakang spesialisasinya. Kelompok monolog yang didominasi oleh pengampu mata diklat Matematika dalam hal ini diwakili oleh Ibu Dr. Atiyah Suharti, M.Pd dan Bapak Drs. Djarot Siswanto, M.Pd. Kemudian Kelompok Bahasa dan Sains membuat produksi siaran feature, masing-masing lokasinya berbeda kelompok Bahasa ke SMP Muhammadiyah Sleman dan kelompok Kimia Fisika ke Pasar Bringharjo untuk mengambil gambar tentang penyepuhan dan pelapisan Emas. Kelompok Talk Show yang terbagi 3 kelompok kecil memproduksi tiga tema yaitu: Pengembangan PAI di Sekolah, Nikah Sirri dan Jejaring Sosial Facebook.
Diklat ini berakhir tanggal 20 Februari 2010 ditutup oleh Bapak Sekretaris Badan Litbang dan Diklat Drs. H.Asmu’i, SH.,M.Hum, dalam sambutannya beliau menyampaikan terima kasih kepada MMTC atas kerjasamanya selama ini, kita ingin banyak belajar dari instansi lain kedepan diusahakan ada pelatihan dengan program dan materi yang berbeda.
Dilanjutkan sambutan oleh pimpinan MMTC Bapak Dr. Ir. Sasongko Pramono Hadi,DEA beliau menyampaikan bahwa teknologi memberi kemudahan bagi kita, lima tahun kedepan akan digarap kerjasama internasional, dan saat itu SDM (WI) Kementerian Agama akan dilibatkan proses produksi. Selanjutnya beliau memberi apresiasi, karena dalam waktu dua pekan bisa menghasilkan tujuh paket produksi masing-masing lima produksi di studio dan dua diluar studio. (Umi)

* Tulisan ini telah dimuat pada Diklat News Edisi 1 Tahun 2010, penulis adalah Umi Maisaroh, seorang widyaiswara pada Pusdiklat Kementerian Agama
















PRODUKSI SIARAN TELEVISI KE - 4



Oleh : Yoki Yusanto

Pertemuan Ke-4

Tahapan Pelaksanaan Produksi Siaran Televisi

Sebelum kita bergerak melangkah membangun sebuah tim produksi mata acara televisi kita kenali dulu apa saja yang bisa ditampilkan di layar kaca. Program Mata Acara televisi berbagai macam jenisnya, kita amati dahulu satu-persatu.

Film Dokumenter (Documentary Film)

Dokumenter menyajikan realita melalui berbagai cara dan dibuat untuk berbagai macam tujuan. Namun harus diakui, film dokumenter tak pernah lepas dari tujuan penyebaran informasi, pendidikan dan propaganda bagi orang atau kelompok tertentu. Intinya film dokumenter tetap berpijak pada hal-hal senyata mungkin. Seiring dengan perjalanan waktu, muncul berbagai aliran dari film dokumenter misalnya dokudrama (docudrama). Dalam dokudrama, terjadi reduksi realita demi tujuan-tujuan estetis, agar gambar dan cerita menjadi lebih menarik. Sekalipun demikian, jarak antara kenyataan dan hasil yang tersaji lewat dokudrama biasanya tak berbeda jauh. Dalam dokudrama, realita tetap jadi pakem pegangan.

Film Cerita Pendek (Short Film)

Durasi film cerita pendek biasanya di bawah 60 menit. Di banyak Negara seperti Jerman, Australia, Kanada dan Amerika Serikat, film cerita pendek dijadikan laboratorium eksperimen dan batu loncatan bagi seseorang/sekelompok orang untuk kemudian memproduksi film cerita panjang. Jenis film ini banyak dihasilkan oleh para mahasiswa jurusan film atau orang/kelompok yang menyukai dunia film dan ingin berlatih membuat film dengan baik. Sekalipun demikian, ada juga yang memang mengkhususkan diri untuk memproduksi film pendek, umumnya hasil produksi ini dipasok ke rumah-rumah produksi atau saluran televisi.
Film Cerita Panjang (Feature – Length Film)
Film dengan durasi lebih dari 60 menit lazimnya berdurasi 90-100 menit. Film yang diputar di bioskop umunya termasuk dalam kelompok ini. Beberapa film, misalnya Dances With Wolves, bahkan berdurasi lebih 120 menit. Film-film produksi India rata-rata berdurasi hingga 180 menit.

Film-film Jenis Lain

Profil Perusahaan (Corporate Profile)

Berkaitan dengan kegiatan Film diproduksi untuk kepentingan institusi tertentu berkaitan dengan kegiatan yang mereka lakukan, missal tayangan “Usaha Anda” di SCTV. Film ini sendiri berfungsi sebagai alat bantu presentasi.

Iklan Televisi (TV Commercial)

Film ini diproduksi untuk Kepentingan penyebaran informasi, baik tentang produk (iklan produk) maupun layanan masyarakat (iklan layanan masyarakat atau public service announcement/PSA). Iklan produk biasanya menampilkan produk yang diiklankan ‘secara eksplisit’, artinya ada stimulus audio-visual yang jelas tentang suatu produk tersebut. Sedangkan iklan produk terhadap fenomena sosial yang diangkat sebagai topik iklan tersebut. Sedangkan iklan layanan masyarakat menginformasikan kepedulian produsen suatu produk terhadap fenomena sosial yang diangkat sebagai topik iklan tersebut. Dengan demikian, iklan layanan masyarakat umumnya menampilkan produk secara implisit.

Program Televisi (T V Programme)

Program ini diproduksi untuk konsumsi pemirsa televisi. Secara umum, program televisi dibagi menjadi dua jenis yakni cerita dan non cerita. Jenis cerita ini terbagi menjadi dua kelompok yakni kelompok fiksi dan kelompok non fiksi. Kelompok fiksi memproduksi film serial (TV series), film televisi/FTV (popular lewat saluran televisi SCTV) dan film pendidikan, film dokumenter atau profil tokoh dari daerah tertentu. Sedangkan program non cerita sendiri menggarap variety show, TV quiz, talkshow dan liputan/ berita.

Video Klip (Music Video)

Sejatinya video klip adalah sarana bagi para produser musik untuk memasarkan produknya lewat medium televisi. Dipopulerkan pertama kali lewat saluran televisi MTV 1981. Di Indonesia, video klip ini sendiri kemudian berkembang sebagai bisnis yang menggiurkan seiring dengan pertumbuhan televisi swasta. Akhirnya video klip tumbuh sebagai aliran dan industry tersendiri. Beberapa rumah produksi mantap memilih video klip menjadi bisnis utama (core business) mereka. Di Indonesia, tak kurang dari 60 video klip diproduksi tiap tahunnya. (Heru Effendy, Membuat Fim itu Gampang)

Tahapan Produksi Mata Siaran Televisi

Pra Produksi (Pre Production)

Pengalaman saya (penulis, red) yang tergabung dalam tim produksi Cineraya Pranadipta, salah satu divisi produksi kreatif di stasiun televisi nasional Lativi tahun 2003-2004. Lativi membagi beberapa divisi dalam mengisi mata acara televisi. Divisi News & Ca (Current Affair) menjadi tumpuan utama sebagai divisi yang memproduksi tayangan berita. Tayangan berita televisi yang diproduksi saat itu Lativi Pagi, Lativi Siang, Lativi Sore, Dialog dan lain-lain. Divisi Produksi Lativi memproduksi tayangan Dangdut, Wanita-wanita (program dialog tentang wanita) dan lainnya. Sedangkan divisi Cineraya Paradipta, yang dipimpin oleh Slamet Raharjo Djarot, Maestro Film Indonesia. Memproduksi sinema elektronik (sinetron), Talkshow, Asmarandana, Desah Malam. Tim inti produksi Cineraya yang hanya berjumlah tujuh orang ini pun memproduksi tayangan Infotainment Paparazi dan program mahasiswa Almamater.

Sebelum memproduksi sebuah mata acara yang dilaksanakan di luar studio (out door) atau dalam studio (in dor), tim produksi haruslah memiliki tempat atau kantor sebagai base camp. Semua Treatment atau skenario dan usulan nama program hingga proses produksi dilakukan dalam rapat di kantor yang terdapat di lingkungan Lativi.

Usulan biasanya didiskusikan semua tim produksi, usulan dalam bentuk proposal diserahkan oleh produser atau penggagas mata acara kepada Eksekutif Produser. Lalu proses presentasi dan diskusi serta fokus utama tujuan sebuah acara harus disampaikan. Presentasi dilaksanakan agar produksi yang diproduksi mempunyai acuan dan standar operasional prosedur (SOP) . Naratama Sutaradara mata acara televisi menulis, Dalam mengekplorasi berbagai ide kreatif yang dapat tertuang dan diproduksi secara apik. Menganalisis target penonton, jam tayang, posisi stasiun televisi, dan studi komparasi terhadap kompetitor acara di stasiun televisi lain.

Ada hal menarik, dalam setiap presentasi mata acara, para produser selalu ditanya goal yang akan dicapai tetang program yang dibuat. Slamet Raharjo menuntut, efek apa yang akan didapatkan, setelah penonton menyaksikan tayangan kita buat. Tidak hanya itu, tujuan utama kita memunculkan tematik harus dijelaskan pula. Bobot atau kekuatan tema yang diproduksi pada divisi Cineraya Lativi, lebih diutamakan. Bahkan tidak mempersoalkan berapa banyak yang akan menonton. Seperti contoh tema tentang isu pribumi dan non pribumi bagi ethnis Tionghoa dijadikan tema utama dalam tayangan infotainment paparazzi. Padahal jelas biasanya infotainment menyangkut gossip selebritis hingga kawin – cerainya. Namun Slamet mangangkat tema yang ke luar dari isu infotainment pada umunya yang seragam di tiap stasiun televisi.
Persiapan Pra Produksi di antaranya mempersiapkan tim di luar tim inti yang akan menunjang produksi. Diantaranya mempersiapkan Desain Produksi. Pengertian desain produksi adalah sebuah rancangan produksi yag dipersiapkan untuk memproduksi sebuah mata acara. Tidak berbeda jauh dengan film, desain produksi siaran televisi setidaknya harus memperhatian hal-hal sebagai berkut ;

1. Jenis mata acara apa yang akan diproduksi ?
2. Naskah ini punya siapa ?
3. Menggunkan format video apa ?
4. Bagaimana memulai Shooting ?
5. Seluk beluk anggaran.
6. Dari mana dananya ?
7. Mempersiapkan crew.
8. Menyusun tim produksi.
9. Mempersiapkan pemeran atau pengisi acara.

Perkembangan yang terjadi di dunia pertelevisian kian kemari adalah kegiatan kreativitas yang sudah tidak menentu. Orientasi laba tujuan utama pemilik modal secara ekonomi, regulasi pemerintah yang kunjung menuai polemik tetang penyiaran, serta lembaga kontrol yang memang tak berdaya. Harus dilawan dengan tayangan yang berkualitas. Menuntut kecerdasan sang kreator televisi dalam memproduksi mata acara televisi. Kini kreator televisi dituntut lebih dapat menggali pelbagai tayangan yang harus mencerdasarkan penonton. Baik hiburan maupun berita.

Sunardian Wirodono dalam buku berjudul Matikan TV-Mu berpandangan, Berbagai bentuk materi siaran, apalagi yang berjenis hiburan seperti sinetron, kuis, infotainment, atau reality show sering lepas dari norma-norma kepatutan sebuah karya kreatif, yang semestinya juga harus bertanggung jawab pada tumbuhnya eksplorasi masyarakatnya. Munculnya berbagai kritik dan keluhan sebagian masyarakat mengenai kualitas tayangan program televisi di Indonesia menunjukan hal itu dengan jelas. Misal, banyak sinetron yang bukan saja rendah kualitas tematik, setting sosial, serta miskin dalam pendalaman materi. Apalagi, rendahnya kreativitas pihak produser itu bergabung dengan rendahnya sensibilitas pihak pengelola televisi. Kedua hal tersebut menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap rendahnya kreativitas pekerja kreatif.

Jenis Tayangan Mata Acara televisi

1. A. News, Jenis acara televisi banyak, sebut saja program News. Ini sebuah identitas khusus sebuah stasiun televisi. Stasiun televisi swasta nasional maupun lokal menempatkan siaran berita paling utama. Berlomba menyajikan tayangan berita dengan perbedaan angle (sudut pandang) sajian. Askurifai Baksin pakar komunikasi dari Universitas Islam Bandung menyebutkan tayangan berita televisi terfokus pada spot news berita singkat. Liputan 6 pagi, siang, petang dan malam serta Liputan 6 terkini mengedepankan berita Straight News secara Spot News. Begitu pula Metro TV dengan Metro Pagi, Metro Siang, Metro Hari Ini dan Metro Malam. Belum lagi Head Line News terfokus pada berita singkat. Banyak lagi, ada Buletin Pagi, Buletin Siang, Buletin Malam dan Seputar Indonesia (RCTI), Fokus (Indosiar) dll. Berbeda di Trans TV, Berita yang lebih mengedepankan In Depth Reporting. Trans TV mengemas sajian berita dengan tayangan Investigasi di program Reportase Sore. Format Berita televisi yang mengedepankan Aktualitas dan Faktualitas, biasanya dilengkapi dengan Feature News, Sport News. Kini bertambah lagi bagiannya, yaitu Jurnalisme Kuliner yang termasuk pada segment Feature News.

B. Drama (FIKSI), dalam bukunya Kunci Sukses Menulis Skenario, Elizabeth Lutters membagi drama ke beberapa jenis drama fiksi. Pengertiannya adalah, jenis cerita fiksi yang bercerita tentang kehidupan dan perilaku manusia sehari-hari. Jenis cerita drama jika mengikuti teori Aristoteles, hanya digolongkan menjadi tragedy, komedi, dan gabungan antara tragedy dan komedi.

Drama Tragedi, adalah cerita yang berakhir dengan duka lara atau kematian. Sedangkan Drama

Komedi, terbagi menjadi beberapa jenis a.l :

Komedi Situasi, cerita lucu yang kelucuannya bukan berasal dari para pemain, melainkan karena situasinya.

Komedi Slapstic, Cerita lucu yang diciptakan dengan adegan menyakiti para pemainnya, atau dengan gerak vulgar dan kasar.

Komedi Satire, Cerita lucu yang penuh sindiran tajam.

Komedi Farce, Cerita lucu yang bersifat dagelan, sengaja menciptakan kelucuan-kelucuan dengan dialog dan gerak laku lucu.








Pernah menyaksikan film animasi keren? Sebut saja Final Fantasy atau Spririted Away. Tapi pernah terbayang enggak bagaimana proses produksinya? Wih, penuh debat, begadang, dan ditutup dengan "masuk rumah sakit".

Membangun cerita

Dalam proses perencanaan, biasanya mulailah dibuat ide-ide cerita dan storyboard atau e-konte. Ide cerita diekspresikan dalam bentuk sinopsis. Biasanya puluhan hingga ratusan preproduction painting dihasilkan untuk mengeksplorasi kemungkinan cerita. Preproduction painting adalah visualisasi awal cerita. Preproduction painting di Amerika dilakukan satu tim berisi lima hingga sepuluh orang. Dalam dunia anime Jepang terkadang preproduction painting dilakukan beberapa orang.

Berbeda dengan studio animasi di Amerika, di mana delapan sampai sepuluh orang diundang menjadi storyboard artist, biasanya di Jepang hanya ada satu orang yang menjadi storyboard artist. Ia biasanya selalu sinonim dengan sutradara. Biasanya pada saat ini character designer mulai diberi tugas. Amat jarang ada film seperti Lilo and Stitch di Amerika. Dalam film tersebut penulis naskah, storyboard artist dan sutradaranya dirangkap dua orang, Chris Sandres dan Dean Deblois.

Cerita dalam dunia animasi Amerika selalu berubah. Dikutip dari Head Storyboard Artist untuk Mulan, Chris Sanders, "Tadinya kami berpikir untuk menjadikan Mulan komedi romantik seperti Tootsie. Setelah berkali-kali kami coba, tidak ada yang sukses, hingga saya akhirnya kesal sendiri. Pada akhirnya kami berusaha membuat kepribadiannya seakurat mungkin dengan versi legenda Cinanya, yaitu menjadikan Mulan sebagai anak perempuan yang berabdi karena cara lain tidak berhasil. Saya lega atas perubahan tersebut."

Beberapa karakter setelah ceritanya diedit berulang kali akan dibuang. Contohnya, untuk film Pocahontas, seharusnya ada kalkun bernama Red Feather tetapi ia tidak signifikan sehingga tidak dipakai .Bila tidak ya diubah. "Saya disuruh mendesain lima model ’Mulan’ untuk Mulan", ujar Chen Yi Chang, sang character designer dari film tersebut. "Hal tersebut tidak langsung jadi, melainkan perlahan-lahan sesuai dengan perubahan cerita."

Pentingnya "storyboard"

Biasanya di Amerika dan Jepang ada sebuah sesi bernama story meeting di mana para storyboard artist berkumpul dan membahas sebuah cerita. Dari rapat tersebut akan diputuskan adegan yang paling sesuai. Tidak jarang ada perdebatan hebat di situ.

Storyboard umumnya masih dalam fase yang amat kasar. Tidak jarang dalam sebuah panel storyboard, gambarnya dibuat agak asal-asalan. Storyboard untuk film animasi umumnya terlihat seperti komik. Perbedaannya dengan komik, dalam storyboard masih ada catatan-catatan kecil di sekitar gambar entah untuk diperbaiki atau dipertimbangkan. Tidak jarang, terutama di dunia animasi Amerika, panel demi panel storyboard sebuah film dibentangkan dari ujung satu gedung ke ujung yang lain. Sampai 1984, studio Disney masih melakukan hal ini. Beberapa studio animasi mengambil jalan yang lebih praktis, yaitu membukukan storyboard-storyboard tersebut untuk pegangan tim produksi.

Untuk mengetes efektivitas sebuah storyboard, biasanya diadakan screening Leica Reel. Leica Reel merupakan kumpulan storyboard yang direkam dengan kamera. Yang bagus terlihat di atas kertas, belum tentu bagus di layar bioskop. Itulah alasan diadakannya Leica Reel.

Setelah storyboard dirapatkan dan disepakati, maka proses layout dan animasi dimulai. Layout adalah blueprint dari komposisi sebuah adegan. Ada dua jenis layout, yaitu tonal dan linear. Layout tonal dibuat untuk mengatur daerah sinar dan bayangan sebuah adegan. Sementara itu, layout linear dibuat untuk menggambarkan detail sebuah adegan. Biasanya setelah layout tersebut diberi dan disetujui, maka departemen background akan mengambil alih dan memproduksi versi berwarnanya. Tidak jarang komputer banyak berperan dalam proses ini. Walaupun masih diwarnai dengan tangan, Tom Cardone-anggota tim produksi film animasi Hercules-mengakui komputer cukup berperan. "Kalau dulu, perbaikan sebuah background bisa memakan waktu dua hari. Sekarang, 45 menit pun jadi."

Butuh banyak orang

Dalam proses animasi, orang-orang yang dilibatkan tidak sedikit. Ada dua departemen besar, yaitu departemen animasi dan departemen clean-up. Tingkatan jabatan dalam proses tersebut adalah, inbetweener, assistant animator, animator, dan supervising animator. Dalam departemen animasi sendiri masih ada dua bagian, yaitu character animation dan special effects animation. Sudah terlihat dari namanya bahwa character animation ditugaskan menggambar karakter. Sementara itu, spesial efek mengurusi hal-hal seperti menggambarkan rintik hujan, petir, asap, dan lain-lain. Walaupun sudah ada komputer untuk mengurusi hal ini, beberapa studio animasi enggan meninggalkan efek-efek yang digambar dengan tangan. Keuntungan efek yang masih digambar dengan tangan antara lain adalah dimungkinkannya stylization efek, yaitu gambaran efek-efek yang bisa disesuaikan dengan gaya artistik arahan sutradara atau art director film tersebut.

Setelah proses animasi tersebut selesai, masih akan dilakukan proses clean-up. Seperti namanya, clean-up bertugas untuk "membersihkan". Membersihkan? Seperti yang telah disinggung di atas, tingkatan tertinggi dalam pekerjaan meng-animasi adalah supervising animator. Belum tentu para asisten sang supervisor dapat menggambar persis sama seperti gambar sang supervisor. Kerepotan ditambah apabila sang supervising animator punya kebiasaan membuat gambar-gambar yang amat kasar (seperti Glen Keane). Agar di layar bioskop semuanya dapat terlihat rapi jali, maka fungsi petugas clean-up menjadi penting.

Hal ini tidaklah gampang karena mereka harus memperhatikan detail-detail kecil seperti jumlah lekuk rambut (apabila ada) pada sebuah karakter, lipatan-lipatan bajunya, kebersihan kertas dari debu grafit, dan lain-lain. Tidak jarang mereka memakai sarung tangan saking berhati-hatinya. Beberapa orang merasa nama departemen satu ini terlalu merendahkan pentingnya peran para pegawai clean-up. Namun, sampai sekarang belum ada yang dapat mengganti nama tersebut dengan yang lebih baik. Setelah proses clean-up selesai, hasilnya akan ditransfer ke cel dan diwarnai oleh departemen Ink and Paint.

Akhirnya, film tersebut akan direkam dengan kamera khusus, yaitu multiplane camera. Akhir-akhir ini metode yang lebih popuer adalah memproses penggabungan background dan animasi menjadi satu di dalam komputer.

Mengisi suara

Sulih suara sebuah film dapat dilakukan sebelum atau sesudah filmnya selesai. Kebanyakan sulih suara dilakukan saat film masih diproses, tetapi terkadang seperti dalam animasi Jepang, sulih suara justru dilakukan setelah filmnya selesai dibuat.

Scoring, atau penataan latar musik film, biasanya dilakukan saat filmnya sudah akan segera selesai produksinya seperti dalam film-film live-action.

Komposer-komposer musik yang melakukan scoring tersebut tidak terikat untuk bekerja selama beberapa tahun, tetapi hanya dalam satu film. Mereka dapat melakukan tiga atau empat proyek sekaligus ketika menggubah musik untuk satu film. Contohnya adalah John Williams, Alan Menken, Danny Elfman, dan Alan Silvestri. Dari Jepang mereka memiliki Yoko Kanno, Jo Hisaishi,Yuki Kajiura, Hajime Mizoguchi, dan Kenji Kawai sebagai komposer andalan mereka.

Sampai saat ini masih tidak jelas seberapa terlibatnya para komposer dalam dunia anime terhadap film-film yang mereka kerjakan. Hayao Miyazaki cukup tergantung kepada komposer langganannya, Joe Hisaishi. Sebelum Jo Hisaishi akan memproduksi full-scoring film-film dari Miyazaki, ia akan memproduksi prototipenya terlebih dahulu yang biasanya digunakan sang maestro sebagai inspirasinya selama bekerja.

Pekerjaan ini bukanlah hal yang mudah. Ada in-joke di studio Disney bahwa bila pekerjaan selesai, semua animator akan berbaring di rumah sakit dalam keadaan koma. Hal ini dikarenakan menjelang deadline kebanyakan mereka akan berada di studio selama berhari-hari dengan kondisi kurang tidur. Beberapa orang pada saat itu hanya akan makan sereal tanpa susu dan bergelas-gelas kopi atau coke.

Jadi setelah mengetahui proses pembuatan film animasi yang belibet n rumit abiz...tegakah kita untuk memberikan komentar negatif setelah menontonnya???paling gak...hargai usaha para pembuatnya...itu lebih baik...

Selamat menikmati film animasi!













LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN
DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR
SEKOLAH TINGGI FILM DAN TELEVISI
DI JAKARTA
Dengan Penekanan Desain Konsep Arsitektur Renzo Piano
Diajukan untuk memenuhi sebagian
persyaratan guna memperoleh gelar
Sarjana Teknik
Diajukan Oleh :
ARDYANA FAHMIADI
L2B 097 217
Periode 77
JANUARI - APRIL 2002
JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2002
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dunia audio visual, baik itu film maupun televise mempunyai daya tarik dan
pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Film dan televise bukan hanya
sebagai sarana hiburan namun juga sebagai sarana informasi yang kehadirannya tidak
dapat dipungkiri lagi merupakan suatu kebutuhan bagi semua lapisan masyarakat.
Terlebih lagi dengan dunia yang ikut melatarbelakanginya seperti perkembangan dunia
teknologi yang terus mengalami peningkatan dan inovasi serta juga dunia kehidupan para
actor/aktris film dan televisi yang selalu menarik untuk disimak.
Perfileman Indonesia, setelah mengalami ‘tidur panjang’ akibat persaingan
dengan film asing dan media televisi sehingga tidak dapat menjadi tuan rumah di negeri
sendiri, tampaknya mulai bangkit kembali. Dengan pelopor sineas-sineas muda, mereka
menghasilkan karya-karya yang berkualitas. Dimulai dari film ‘Kuldesak’, ‘petualangan
sherina’,’Bintang Jatuh’,’Pasir Berbisik’,’Beth’,’Jakarta Project’,’Jelangkung’,hingga
’Ada Apa Dengan Cinta’ yang pada umumnya membidik pasar remaja dan ternyata
mendapat sambutan yang luar biasa antusias.
Semangat berfilm memang semakin terasa menggejala di kalangan anak muda
dewasa ini. Gejala itu terlihat tidak saja pada kelompok muda yang berlatar pendidikan
seni, atau lebih focus lagi seni film. Siapapun, dengan latar pendidikan apapun, ramairamai
menonton, berdiskusi, sampai membuat film.
Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, atau yang di
luar Jawa seperti Bali, Lampung, dan Makassar, komunitas seperti ini bertebaran. Maka,
tahun ini kegiatan film tidak saja bisa disaksikan lewat Festifal Film Asia Pasifik ke-46 di
Jakarta dan Jakarta International Film Festival, tapi juga Festival Film-Vidio Independen
Indonesia (FFVII). Festival yang diprakarsai Komunitas Film Independen itu
menyertakan puluhan film yang telah diseleksi. Sebelum ada seleksi, lebih dari seratus
film disertakan. FFVII ke-3 ini memang menampung film-video dengan media apapun,
dari siapapun, dari siswa SMP hingga lulusan perguruan tinggi dan dalam durasi berapa
lamapun (Suara Pembaruan, 23 Des 2001).
Adapun televisi sebagai kebudayaan audio visual baru yang hadir setelah film
muncul sebagai alternatif hiburan dan sumber informasi masyarakat sehingga sempat
menjadi salah satu penyebab mundurnya perfilman Indonesia, khususnya dengan
kemunculan stasiun TV swasta baru yang mendampingi TVRI sebagai stasiun
pemerintah. Hadir dengan kemasan yang menarik, stasiun TV swasta menawarkan
program-program siaran baik hiburan maupun berita yang mempu menarik minat
pemirsa.
Dunia pertelevisian di Indonesia, dalam dua dasawarsa terakhir mengalami
perkembangan yang sangat pesat. Dimulai oleh RCTI sebagai stasiun televise swasta
pertama di Indonesia (24 Agustus 1989) mendampingi stasiun pemerintah TVRI yang
sudah ada sejak 17 Agustus 1962, hingga kini Indonesia memiliki 10 stasiun telivisi
swasta nasional serta tidak menutup kemungkinan munculnya TV-TV swasta baru di
masa yang akan datang. Munculnya TV-TV swasta baru juga berimbas pada semakin
menjamurnya rumah-rumah Produksi (Production House) yang menjadi pemasok acara
bagi TV swasta tersebut. Setidaknya terdapat 500 Rumah Produksi tersebar di seluruh
Indonesia, dimana 317 diantaranya tergabung dalam Asosiasi Rumah Produksi Indonesia,
ARPI (www.cakram.com/mei00.htm).
Proses produksi suatu film dan acara televise, baik oleh stasiun TV maupun
Production House melibatkan suatu kerabat kerja yang masing-masing memiliki peran
dan tanggung jawab sesuai dengan bidang pekerjaanya. Mulai dari produser, sutradara,
kameramen, penulis naskah, hingga piñata set. Dengan demikian dapat dipahami bahwa
lahan pekerjaan di bidang pertelevisian menjadi semakin terbuka dan penuh persaingan
serta menuntut dimilikinya kemampuan professional pada bidang pekerjaan tertentu.
Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia sampai saat ini masih menjadi pilihan
utama sebagai tempat berdirinya stasiun Televisi Swasta serta Rumah Produksi. Hal ini
dimungkinkan karena kegiatan bisnis, hiburan dan politik Indonesia yang menjadi
sumber siaran televise serta sarana prasarana produksi film masih terpusat di kota Jakarta.
Berdasarkan uraian diatas, maka keberadaan Sekolah Tinggi Film dan Televisi di
Jakarta dapat menjadi jawaban atas kebutuhan akan tenaga kerja di bidang pertelevisian
sekaligus sebagai ajang peningkatan keahlian para professional di bidang produksi film
dan siaran televisi. Dengan penekanan desain arsitektur Renzo piano, diharapkan muncul
suatu bangunan pendidikan yang atraktif mengingat sifatnya yang komersial.
Sekolah yang dirancang merupakan suatu wadah pendidikan bagi masyarakat
umum (lulusan SLTA) yang ingin berkecimpung di bidang film dan televisi sekaligus
wadah pelatihan bagi para professional di bidang film dan televisi yang berkeinginan
untuk meningkatkan keahliannya melalui short course dengan jangka waktu 1-6 hari.
Sekolah Tinggi Film dan Televisi dengan kelengkapannya seperti studio film dan siaran
TV, studio rekaman, studio pasca produksi lengkap dengan perlengkapan computer
beserta ruang kuliah menampung peserta pendidikan dan pelatihan dengan berbagai
bidang, baik di bidang teknik produksi film dan siaran TV, seperti studio engineering,
lighting, sound production, animasi, editing dan teknik kamera, maupun bidang
manajemen produksi misalnya perencanaan program siaran, penulisan naskah, serta
teknik reportasi.
1.2. Perumusan Masalah
Permasalahan dalam pembahasan Sekolah Tinggi Film dan Televisi di Jakarta ini
adalah bagaimana merencanakan dan merancang wadah yang dapat menampung
kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan film dan televisi yang selain
memenuhi persyaratan fungsional juga mampu memberikan kondisi aman, nyaman dan
menarik bagi penggunanya, sehingga aktifitas yang berlangsung di dalamnya bisa
berjalan sesuai fungsi dan tujuannya.
1.3. Tujuan, Sasaran dan Manfaat
1.3.1. Tujuan
Memperoleh program perencanaan dan perancangan yang representative ditinjau
dari segi pemenuhan kebutuhan ruang beserta persyaratan teknisnya sekaligus dari segi
rasa aman dan nyaman bagi pengguna bangunan serta menciptakan suatu bangunan yang
menarik dari sisi arsitektural.
1.3.2. Sasaran
Sasaran yang dituju adalah tersusunnya landasan atau pedoman perencanaan dan
perancangan Sekolah Tinggi Film dan Televisi dengan penekanan desain konsep
arsitektur Rezo Piano.
1.3.3. Manfaat
Manfaat yang diperoleh adalah memenuhi salah satu persyaratan kelulusan
mahasiswa dan memperoleh gelar sarjana di Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro
serta dapat menambah wawasan dalam bidang pendidikan, film dan televisi.
1.4. Lingkup Pembahasan
Pembahasan dititikberatkan pada hal-hal yang berkaitan dengan disiplin ilmu
Arsitektur, seperti aspek fungsional, teknis, kinerja, kontekstual dan arsitektural;
sedangkan data, informasi dan permasalahan di luar bidang arsitektur sejauh masih
melatarbelakangi, mendasari dan berkaitan dengan factor-faktor perencanaan fisik
dibahas secara umum dengan asumsi rasional dan logis sebagai informasi pendukung,
antara lain mengenai tinjauan pendidikan tinggi, kurikulum, struktur organisasi serta
tinjauan tentang film dan televisi secara umum.
1.5. Metode Pembahasan
Metoda yang digunakan secara keseluruhan adalah deskriptif komparatif, yaitu
dengan mengadakan pengumpulan data primer maupun sekunder yang kemudian
diadakan analisa sehingga akan dihasilkan sintesa-sintesa. Studi banding pada bangunan
yang akan dirancang. Adapun metode pengumpulan data yang dilakukan adalah :
a. Survey lapangan, dilakukan untuk mendapatkan data primer, mengenai
kebutuhan ruang, besaran ruang, struktur organisasi, kelompok pengguna
bangunan, serta kegiatan dalam objek studi banding sebagai acuan bagi
perencanaan dan perancangan yang akan dilakukan
b. Studi literature, dilakukan untuk mendapatkan data sekunder, dalam hal ini
berupa studi kepustakaan mengenai teori pendidikan, pertelevisian, standar
ruang serta pengumpulan data informasi dan peta dari instansi terkait
c. Wawancara, dilakukan dengan pihak terkait untuk melengkapi data primer
mengenai topic yang dibahas.
1.6. Sistematika Pembahasan
Penulisan Landasan program perencanaan dan perancangan (LP3A) ini
menggunakan sistematika pembahasan sebagai berikut :
BAB I Pendahuluan
Berisi tentang pokok-pokok pemikiran yang melatarbelakangi pemilihan
judul, tujuan dan sasaran, manfaat pembahasan, lingkup pembahasan,
metode pembahasan dan sistematika pembahasan
BAB II Tinjauan Pendidikan Film dan Televisi di Jakarta
Berisi pembahasan mengenai pendidikan tinggi beserta peraturan
pendiriannya, tinjauan film dan televisi, proses produksi film dan siaran
televisi, serta studi banding pada beberapa objek yang relevan untuk
mendapat acuan mengenai kegiatan, pemakai bangunan, kebutuhan dan
besaran ruang, kurikulum pendidikan dan pelatihan, serta kecenderungan
minat terhadap sekolah film dan televise di Jakarta.
BAB III Tinjauan Sekolah Tinggi Film dan Televisi di Jakarta
Berisi tinjauan mengenai kota Jakarta dan potensinya sebagai lokasi
Sekolah Tinggi yang dirancang, serta rumusan dasar bentuk Sekolah
Tinggi yang direncanakan.
BAB IV Kesimpulan, Batasan dan Anggapan
Berisi tentang kesimpulan pembahasan, batasan permasalahan dan lingkup
bahasan yang hanya berkaitan dengan perencanaan dan perancangan
Sekolah Tinggi Film dan Televisi di Jakarta, serta anggapan yang
merupakan hal-hal yang mempengaruhi proses perancangan yang
diposisikan pada suatu keadaan ideal.
BAB V Pendekatan Program Perencanaan dan Perancangan
Berisi tentang analisa berbagai aspek perancangan (fungsional, struktur,
utilitas, akustik, penekanan desain, dan lokasi tapak), pendekatan standard
an studi ruang untuk mendapatkan besaran ruang serta pendekatan
pemilihan tapak.
BAB VI Konsep dan Program Dasar Perancangan
Berisi program dasar perancangan hasil pendekatan dan analisis, uraian
konsep dasar perancangan dan factor-faktor penentunya.
















Tahapan Pelaksanaan Produksi Siaran Televisi

Sebelum kita bergerak melangkah membangun sebuah tim produksi mata acara televisi kita kenali dulu apa saja yang bisa ditampilkan di layar kaca. Program Mata Acara televisi berbagai macam jenisnya, kita amati dahulu satu-persatu.

Film Dokumenter (Documentary Film)

Dokumenter menyajikan realita melalui berbagai cara dan dibuat untuk berbagai macam tujuan. Namun harus diakui, film dokumenter tak pernah lepas dari tujuan penyebaran informasi, pendidikan dan propaganda bagi orang atau kelompok tertentu. Intinya film dokumenter tetap berpijak pada hal-hal senyata mungkin. Seiring dengan perjalanan waktu, muncul berbagai aliran dari film dokumenter misalnya dokudrama (docudrama). Dalam dokudrama, terjadi reduksi realita demi tujuan-tujuan estetis, agar gambar dan cerita menjadi lebih menarik. Sekalipun demikian, jarak antara kenyataan dan hasil yang tersaji lewat dokudrama biasanya tak berbeda jauh. Dalam dokudrama, realita tetap jadi pakem pegangan.

Film Cerita Pendek (Short Film)

Durasi film cerita pendek biasanya di bawah 60 menit. Di banyak Negara seperti Jerman, Australia, Kanada dan Amerika Serikat, film cerita pendek dijadikan laboratorium eksperimen dan batu loncatan bagi seseorang/sekelompok orang untuk kemudian memproduksi film cerita panjang. Jenis film ini banyak dihasilkan oleh para mahasiswa jurusan film atau orang/kelompok yang menyukai dunia film dan ingin berlatih membuat film dengan baik. Sekalipun demikian, ada juga yang memang mengkhususkan diri untuk memproduksi film pendek, umumnya hasil produksi ini dipasok ke rumah-rumah produksi atau saluran televisi.
Film Cerita Panjang (Feature – Length Film)
Film dengan durasi lebih dari 60 menit lazimnya berdurasi 90-100 menit. Film yang diputar di bioskop umunya termasuk dalam kelompok ini. Beberapa film, misalnya Dances With Wolves, bahkan berdurasi lebih 120 menit. Film-film produksi India rata-rata berdurasi hingga 180 menit.

Film-film Jenis Lain

Profil Perusahaan (Corporate Profile)

Berkaitan dengan kegiatan Film diproduksi untuk kepentingan institusi tertentu berkaitan dengan kegiatan yang mereka lakukan, missal tayangan “Usaha Anda” di SCTV. Film ini sendiri berfungsi sebagai alat bantu presentasi.

Iklan Televisi (TV Commercial)

Film ini diproduksi untuk Kepentingan penyebaran informasi, baik tentang produk (iklan produk) maupun layanan masyarakat (iklan layanan masyarakat atau public service announcement/PSA). Iklan produk biasanya menampilkan produk yang diiklankan ‘secara eksplisit’, artinya ada stimulus audio-visual yang jelas tentang suatu produk tersebut. Sedangkan iklan produk terhadap fenomena sosial yang diangkat sebagai topik iklan tersebut. Sedangkan iklan layanan masyarakat menginformasikan kepedulian produsen suatu produk terhadap fenomena sosial yang diangkat sebagai topik iklan tersebut. Dengan demikian, iklan layanan masyarakat umumnya menampilkan produk secara implisit.

Program Televisi (T V Programme)

Program ini diproduksi untuk konsumsi pemirsa televisi. Secara umum, program televisi dibagi menjadi dua jenis yakni cerita dan non cerita. Jenis cerita ini terbagi menjadi dua kelompok yakni kelompok fiksi dan kelompok non fiksi. Kelompok fiksi memproduksi film serial (TV series), film televisi/FTV (popular lewat saluran televisi SCTV) dan film pendidikan, film dokumenter atau profil tokoh dari daerah tertentu. Sedangkan program non cerita sendiri menggarap variety show, TV quiz, talkshow dan liputan/ berita.

Video Klip (Music Video)

Sejatinya video klip adalah sarana bagi para produser musik untuk memasarkan produknya lewat medium televisi. Dipopulerkan pertama kali lewat saluran televisi MTV 1981. Di Indonesia, video klip ini sendiri kemudian berkembang sebagai bisnis yang menggiurkan seiring dengan pertumbuhan televisi swasta. Akhirnya video klip tumbuh sebagai aliran dan industry tersendiri. Beberapa rumah produksi mantap memilih video klip menjadi bisnis utama (core business) mereka. Di Indonesia, tak kurang dari 60 video klip diproduksi tiap tahunnya. (Heru Effendy, Membuat Fim itu Gampang)

Tahapan Produksi Mata Siaran Televisi

Pra Produksi (Pre Production)

Pengalaman saya (penulis, red) yang tergabung dalam tim produksi Cineraya Pranadipta, salah satu divisi produksi kreatif di stasiun televisi nasional Lativi tahun 2003-2004. Lativi membagi beberapa divisi dalam mengisi mata acara televisi. Divisi News & Ca (Current Affair) menjadi tumpuan utama sebagai divisi yang memproduksi tayangan berita. Tayangan berita televisi yang diproduksi saat itu Lativi Pagi, Lativi Siang, Lativi Sore, Dialog dan lain-lain. Divisi Produksi Lativi memproduksi tayangan Dangdut, Wanita-wanita (program dialog tentang wanita) dan lainnya. Sedangkan divisi Cineraya Paradipta, yang dipimpin oleh Slamet Raharjo Djarot, Maestro Film Indonesia. Memproduksi sinema elektronik (sinetron), Talkshow, Asmarandana, Desah Malam. Tim inti produksi Cineraya yang hanya berjumlah tujuh orang ini pun memproduksi tayangan Infotainment Paparazi dan program mahasiswa Almamater.

Sebelum memproduksi sebuah mata acara yang dilaksanakan di luar studio (out door) atau dalam studio (in dor), tim produksi haruslah memiliki tempat atau kantor sebagai base camp. Semua Treatment atau skenario dan usulan nama program hingga proses produksi dilakukan dalam rapat di kantor yang terdapat di lingkungan Lativi.

Usulan biasanya didiskusikan semua tim produksi, usulan dalam bentuk proposal diserahkan oleh produser atau penggagas mata acara kepada Eksekutif Produser. Lalu proses presentasi dan diskusi serta fokus utama tujuan sebuah acara harus disampaikan. Presentasi dilaksanakan agar produksi yang diproduksi mempunyai acuan dan standar operasional prosedur (SOP) . Naratama Sutaradara mata acara televisi menulis, Dalam mengekplorasi berbagai ide kreatif yang dapat tertuang dan diproduksi secara apik. Menganalisis target penonton, jam tayang, posisi stasiun televisi, dan studi komparasi terhadap kompetitor acara di stasiun televisi lain.

Ada hal menarik, dalam setiap presentasi mata acara, para produser selalu ditanya goal yang akan dicapai tetang program yang dibuat. Slamet Raharjo menuntut, efek apa yang akan didapatkan, setelah penonton menyaksikan tayangan kita buat. Tidak hanya itu, tujuan utama kita memunculkan tematik harus dijelaskan pula. Bobot atau kekuatan tema yang diproduksi pada divisi Cineraya Lativi, lebih diutamakan. Bahkan tidak mempersoalkan berapa banyak yang akan menonton. Seperti contoh tema tentang isu pribumi dan non pribumi bagi ethnis Tionghoa dijadikan tema utama dalam tayangan infotainment paparazzi. Padahal jelas biasanya infotainment menyangkut gossip selebritis hingga kawin – cerainya. Namun Slamet mangangkat tema yang ke luar dari isu infotainment pada umunya yang seragam di tiap stasiun televisi.
Persiapan Pra Produksi di antaranya mempersiapkan tim di luar tim inti yang akan menunjang produksi. Diantaranya mempersiapkan Desain Produksi. Pengertian desain produksi adalah sebuah rancangan produksi yag dipersiapkan untuk memproduksi sebuah mata acara. Tidak berbeda jauh dengan film, desain produksi siaran televisi setidaknya harus memperhatian hal-hal sebagai berkut ;

1. Jenis mata acara apa yang akan diproduksi ?
2. Naskah ini punya siapa ?
3. Menggunkan format video apa ?
4. Bagaimana memulai Shooting ?
5. Seluk beluk anggaran.
6. Dari mana dananya ?
7. Mempersiapkan crew.
8. Menyusun tim produksi.
9. Mempersiapkan pemeran atau pengisi acara.

Perkembangan yang terjadi di dunia pertelevisian kian kemari adalah kegiatan kreativitas yang sudah tidak menentu. Orientasi laba tujuan utama pemilik modal secara ekonomi, regulasi pemerintah yang kunjung menuai polemik tetang penyiaran, serta lembaga kontrol yang memang tak berdaya. Harus dilawan dengan tayangan yang berkualitas. Menuntut kecerdasan sang kreator televisi dalam memproduksi mata acara televisi. Kini kreator televisi dituntut lebih dapat menggali pelbagai tayangan yang harus mencerdasarkan penonton. Baik hiburan maupun berita.

Sunardian Wirodono dalam buku berjudul Matikan TV-Mu berpandangan, Berbagai bentuk materi siaran, apalagi yang berjenis hiburan seperti sinetron, kuis, infotainment, atau reality show sering lepas dari norma-norma kepatutan sebuah karya kreatif, yang semestinya juga harus bertanggung jawab pada tumbuhnya eksplorasi masyarakatnya. Munculnya berbagai kritik dan keluhan sebagian masyarakat mengenai kualitas tayangan program televisi di Indonesia menunjukan hal itu dengan jelas. Misal, banyak sinetron yang bukan saja rendah kualitas tematik, setting sosial, serta miskin dalam pendalaman materi. Apalagi, rendahnya kreativitas pihak produser itu bergabung dengan rendahnya sensibilitas pihak pengelola televisi. Kedua hal tersebut menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap rendahnya kreativitas pekerja kreatif.

Jenis Tayangan Mata Acara televisi

1. A. News, Jenis acara televisi banyak, sebut saja program News. Ini sebuah identitas khusus sebuah stasiun televisi. Stasiun televisi swasta nasional maupun lokal menempatkan siaran berita paling utama. Berlomba menyajikan tayangan berita dengan perbedaan angle (sudut pandang) sajian. Askurifai Baksin pakar komunikasi dari Universitas Islam Bandung menyebutkan tayangan berita televisi terfokus pada spot news berita singkat. Liputan 6 pagi, siang, petang dan malam serta Liputan 6 terkini mengedepankan berita Straight News secara Spot News. Begitu pula Metro TV dengan Metro Pagi, Metro Siang, Metro Hari Ini dan Metro Malam. Belum lagi Head Line News terfokus pada berita singkat. Banyak lagi, ada Buletin Pagi, Buletin Siang, Buletin Malam dan Seputar Indonesia (RCTI), Fokus (Indosiar) dll. Berbeda di Trans TV, Berita yang lebih mengedepankan In Depth Reporting. Trans TV mengemas sajian berita dengan tayangan Investigasi di program Reportase Sore. Format Berita televisi yang mengedepankan Aktualitas dan Faktualitas, biasanya dilengkapi dengan Feature News, Sport News. Kini bertambah lagi bagiannya, yaitu Jurnalisme Kuliner yang termasuk pada segment Feature News.

B. Drama (FIKSI), dalam bukunya Kunci Sukses Menulis Skenario, Elizabeth Lutters membagi drama ke beberapa jenis drama fiksi. Pengertiannya adalah, jenis cerita fiksi yang bercerita tentang kehidupan dan perilaku manusia sehari-hari. Jenis cerita drama jika mengikuti teori Aristoteles, hanya digolongkan menjadi tragedy, komedi, dan gabungan antara tragedy dan komedi.

Drama Tragedi, adalah cerita yang berakhir dengan duka lara atau kematian. Sedangkan Drama

Komedi, terbagi menjadi beberapa jenis a.l :

Komedi Situasi, cerita lucu yang kelucuannya bukan berasal dari para pemain, melainkan karena situasinya.

Komedi Slapstic, Cerita lucu yang diciptakan dengan adegan menyakiti para pemainnya, atau dengan gerak vulgar dan kasar.

Komedi Satire, Cerita lucu yang penuh sindiran tajam.

Komedi Farce, Cerita lucu yang bersifat dagelan, sengaja menciptakan kelucuan-kelucuan dengan dialog dan gerak laku lucu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar