Jumat, 04 Maret 2011

ilmu produksi siaran tv

Diklat Produksi Program Pendidikan Siaran Televisi
Senin, 10 Mei 2010 10:38 Admin
E-mailCetakPDF
Perkembangan teknologi multimedia khususnya yang berkaitan dengan audio dan video sangat pesat, untuk itu selama empat belas hari, sejak tanggal 07 s.d. 20 Februari 2010 diselenggarakan Diklat Produksi Program Pendidikan Siaran Televisi. Program ini dilaksanakan berkat kerja sama Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama dengan Sekolah Tinggi Multi Media MMTC Yogyakarta. Kegiatan yang berlangsung di kampus milik Kementerian Kominfo  diikuti 40 peserta yang terdiri dari para widyaiswara, penulis modul dan para ahli di lingkungan Pusdiklat, Balai Diklat Keagamaan, UIN Bandung dan STAIN Salatiga.
Diklat yang dibuka secara resmi oleh Kepala Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan, Ibu Hj.  Siti Maryam, S.Ag.,M.Pd bertujuan; Pertama, membekali Widyaiswara di lingkungan Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Kementerian  Agama agar mampu menyiapkan media ajar/materi diklat untuk siaran televisi. Kedua, menyiapkan tenaga pengajar/widyaiswara yang mampu menjadi narasumber/pemateri dalam acara siaran televisi. Ketiga, menyiapkan sumber daya manuasia yang mampu mengembangkan metode pembelajaran melalui siaran televisi. Lebil lanjut Ibu Kapus memberikan motivasi agar semua peserta memiliki A3 yaitu : Aku Bisa, Aku Krasan, Aku Tuman sebagai jawaban ungkapan yang disampaikan oleh bapak Drs. M. Suparwoto yang memberikan sambutan mewakili Pimpinan MMTC Bapak Dr. Ir. Sasongko Pramono Hadi, DEA. Dalam sambutannya beliau menyampaikan, peserta diklat jangan menjadi A3, yaitu: Aku Bisa, Aku Pernah Bisa, Aku Lupa. Selanjutnya beliau menyampaikan bahwa Diklat ini selain mempererat hubungan kerjasama antar Lembaga, juga akan menjadi ajang pertukaran informasi karena peserta Diklatnya adalah para intelektual dan profesional “Widyaiswara”.
Adapun materi yang disampaikan meliputi:
Strategi menjadi Narasumber Talk Show, Monolog untuk pembelajaran, mengelola audience, mempersiapkan materi termasuk GBIM
Teknik menulis Naskah, naskah narasumber, naskah feature dan monolog
Teknik Penyutradaraan (pengarah acara)
Teknik Pengambilan Gambar
Teknik Produksi Program siaran TV dan terahir praktik.
Selama pelatihan, peserta dengan antusias menerima materi-materi yang merupakan hal baru bagi widyaiswara. Seperti materi Strategi Menjadi Narasumber Program Pendidikan Siaran Televisi, di akhir sesi ini para peserta dituntut berakting secara monolog di depan kamera layaknya presenter sebuah televisi. Lebih istimewa lagi dan yang membuat “grogi” peserta, justru karena disaksikan langsung oleh bapak Sekretaris Badan Litbang dan Diklat, Drs. H. Asmuي, SH, M. Hum.
Hari ketiga materi Teknik Penyutradaraan (pengarah acara), sutradara adalah sebutan bagi seorang yang mempunyai profesi menyutradarai Program Acara Televisi, baik itu program acara drama maupun nondrama, baik itu produksi dengan single kamera maupun multi kamera. Pada intinya hasil akhir dari sebuah program acara televise melalui proses yaitu, proses produksi yang terdiri dari pra produksi, produksi, dan paska produksi yang ketiganya menyatu, tidak boleh terlewatkan. Apabila salah satu tingkat pengerjaan produksi itu hilang atau belum selasai, maka tugas sang sutradara masih belum tuntas. Dalam kesempatan lain peserta juga diajak masuk ke ruang Studio siaran televisi. Di lokasi Studio siaran, meskipun tidak sempat mengoperasikan berbagai macam alat rekaman yang sangat canggih, mereka cukup puas dengan memegang-megang peralatan yang harganya milyaran rupiah itu, bahkan tidak sedikit ber-pose, mengabadikan moment penting tersebut dengan kamera masing-masing.
Materi yang tidak kalah menarik adalah Teknik Pengambilan Gambar. Pada materi ini peserta tidak hanya dituntut menjadi kameramen, tapi juga harus menjadi obyek pengambilan gambar sehingga ketika ditampilkan hasilnya terjadi “ger-geran” karena muncul adegan-adegan lucu, seperti rebutan mike antara bu Umi dan pak Sholeh. Maklum, semua pemain dan kameramennya masih amatiran.
Pada hari ke-tujuh, peserta mendapat support dari Sekretaris Badan Litbang Dan Diklat Bapak Drs. H. Asmu'i, SH., M.Hum.  beliau menyampaikan bahwa tgl 24 Februari 2010 segera tayang Diklat Jarak Jauh materi Aqidah Akhlak dan Bahasa Inggris, untuk itu peserta Diklat yang mengampu materi tersebut agar menyiapkan diri, bahkan kalau bisa dari Diklat ini menghasilkan produksi siaran yang bisa langsung tayang.
Peserta sangat senang dan memberikan apresiasi terhadap Bapak Drs. Asmu’i, Sh., M.Hum yang disela-kela kesibukan beliau masih sempat memberikan perhatian khusus dan memotivasi peserta Diklat agar betul-betul mengikuti setiap kegiatan dan menghasilkan produk yang layak jual. 
Setelah itu diberikan materi teknik editing oleh pembimbing. Untuk proses editing audio dan video yang dahulu hanya dapat dilakukan dengan menggunakan 1 player video dan 1 recorder video dimana cara ini hanya mengizinkan transisi cut to cut. Selanjutnya, muncul penyuntingan dengan 2 player dan 1 recorder yang dilengkapi mixer. Teknik penyuntingan ini menyediakan transisi dissolve, wipe, dan beberapa pola. Teknologi ini disebut A/B Roll Editing atau biasa disebut Linier Editing. Karena sifatnya yang linier, jika terjadi perubahan atau revisi di bagian depan ataupun tengah maka seluruh rangkaian di belakangnya harus diulang kembali. Hadirnya teknologi digital video editing mampu menjawab persoalan yang ada di linier editing. Untuk belajar editing, peserta diajak ke ruang laboratorium komputer, dibagi menjadi dua kelompok, setiap peserta secara langsung praktek mengedit satu atau dua film menjadi sebuah film utuh dengan menggunakan program Adobe Premier. Materi ini yang dirasa sangat kurang waktunya karena hanya 8 JP sedangkan editing diperlukan sekali dalam pembuatan setiap produk siaran khususnya feature dan monolog.
Selanjutnya peserta melakukan praktek produksi siaran. Namun sehari sebelumnya diawali dengan pembuatan naskah sesuai pembagian kelompok, yaitu : Monolog, Talk Show dan  Feature. Selama dua hari dengan dipandu masing-masing pembimbing peserta membuat tema sesuai dengan latar belakang spesialisasinya. Kelompok monolog yang didominasi oleh pengampu mata diklat Matematika dalam hal ini diwakili oleh Ibu Dr. Atiyah Suharti, M.Pd dan Bapak Drs. Djarot Siswanto, M.Pd. Kemudian Kelompok Bahasa dan Sains membuat produksi siaran feature, masing-masing lokasinya berbeda kelompok Bahasa ke SMP Muhammadiyah Sleman dan kelompok Kimia Fisika ke Pasar Bringharjo untuk mengambil gambar tentang penyepuhan dan pelapisan Emas. Kelompok Talk Show yang terbagi 3 kelompok kecil memproduksi tiga tema yaitu: Pengembangan PAI di Sekolah, Nikah Sirri dan Jejaring Sosial Facebook.
Diklat ini berakhir tanggal 20 Februari 2010 ditutup oleh Bapak Sekretaris Badan Litbang dan Diklat Drs. H.Asmu’i, SH.,M.Hum, dalam sambutannya beliau menyampaikan terima kasih kepada MMTC atas kerjasamanya selama ini, kita ingin banyak belajar dari instansi lain kedepan diusahakan ada pelatihan dengan program dan materi yang berbeda.
Dilanjutkan sambutan oleh pimpinan MMTC Bapak Dr. Ir. Sasongko Pramono Hadi,DEA beliau menyampaikan bahwa teknologi memberi kemudahan bagi kita, lima tahun kedepan akan digarap kerjasama internasional, dan saat itu SDM (WI) Kementerian Agama akan dilibatkan proses produksi. Selanjutnya beliau memberi apresiasi, karena dalam waktu dua pekan bisa menghasilkan tujuh paket produksi masing-masing lima produksi di studio dan dua diluar studio. (Umi)

* Tulisan ini telah dimuat pada Diklat News Edisi 1 Tahun 2010, penulis adalah Umi Maisaroh, seorang widyaiswara pada Pusdiklat Kementerian Agama

1 komentar: